<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SAHABAT TANI INDONESIA</title>
	<atom:link href="http://pampang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pampang.wordpress.com</link>
	<description>Membangun pertanian berwawasan ramah lingkungan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Jan 2008 04:00:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pampang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SAHABAT TANI INDONESIA</title>
		<link>http://pampang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pampang.wordpress.com/osd.xml" title="SAHABAT TANI INDONESIA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pampang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tanaman Obat-Obatan</title>
		<link>http://pampang.wordpress.com/2008/01/15/tanaman-obat-obatan/</link>
		<comments>http://pampang.wordpress.com/2008/01/15/tanaman-obat-obatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 01:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pampang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pampang.wordpress.com/2008/01/15/tanaman-obat-obatan/</guid>
		<description><![CDATA[Mengembangkan Tanaman Obat di Daerah Oleh H. USEP ROMLI H. M. SEJAK tahun 1980-an, obat-obatan dan makanan kesehatan buatan Cina telah mengalir deras ke Indonesia. Mereka mendapat pasar yang luas, bukan saja di kota-kota besar, tapi juga hingga ke kota kecil. Bahkan ke desa-desa, mereka dijajakan sales keliling. Ternyata sekarang ini, hampir semua obat-obatan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=41&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><font face="Times New Roman"><font size="5">Mengembangkan Tanaman Obat di Daerah</font><br />
Oleh H. USEP ROMLI H. M.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">SEJAK tahun 1980-an, obat-obatan dan makanan kesehatan buatan Cina telah mengalir deras             ke Indonesia. Mereka mendapat pasar yang luas, bukan saja di kota-kota besar, tapi juga             hingga ke kota kecil. Bahkan ke desa-desa, mereka dijajakan <i>sales</i> keliling.             Ternyata sekarang ini, hampir semua obat-obatan dan makanan kesehatan produk Cina             mengandung formalin dan zat-zat berbahaya lainnya, sehingga tak layak dikonsumsi dan harus             segera ditarik.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Seandainya masyarakat sadar akan kekayaan tumbuhan obat-obatan khas Indonesia, kasus             seperti itu tidak perlu terjadi. Sebab tumbuhan obat-obatan, yang dijamin bersih dari             kontaminasi zat-zat berbahaya, terdapat di sekeliling rumah, kebun, atau sawah. Hanya saja             belum terinventarisasi secara lengkap serta belum terkaji secara ilmiah. Penggunaan             tanaman obat untuk keperluan sehari-hari masih bercorak tradisional.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Peluang ke arah pemanfaatan tumbuhan obat-obatan dalam skala besar dan bernilai bisnis             mungkin baru akan dirintis bulan-bulan ini. Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren)             Darussalam Kec. Wanaraja, Kab. Garut, pimpinan Hj. Dra. Ny. Aisyah Musaddad, telah             berhasil menggandeng PT Kimia Farma (Pesero), Tbk. untuk pemanfaatan bahan baku obat alam.             </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Bahkan nota kesepakatan antara kedua institusi tersebut telah ditandatangani akhir             bulan lalu, di Pesantren Musadaddiyah, Kab. Garut oleh Dirut PT Kimia Farma, Drs. Gunawan             Pranoto dan Hj. Aminah Musaddad, disaksikan Wagub Jabar Drs. H. Nu&#8217;man Abdul Hakim dan             Sekjen Departemen Pertanian, Hasanuddin Ibrahim.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Menurut Ny. Aminah Musaddad, para santri dan para anggota Majelis Ta&#8217;lim Musaddadiyah             dan Darussalam telah siap menjadi produsen bahan baku tanaman obat. Riset dan pengembangan             melibatkan lembaga-lembaga perguruan tinggi, serta perencanaan, pembinaan, pendampingan             mulai dari budi daya, teknologi pascapanen, hingga pemasaran, akan dibantu oleh             lembaga-lembaga penelitian dan manajemen. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Diharapkan, kondisi ini dapat mendorong kemauan para santri dan petani untuk menanam,             memelihara, dan melestarikan tanaman obat-obatan karena mereka akan mendapat peluang             ekonomi yang cukup signifikan dan peningkatan kesejahteraan mereka sehari-hari.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Berbagai jenis tanaman obat yang sudah mulai dikembangkan antara lain katuk, saga,             sirih, pinang, kencur, laja, koneng gede, koneng temen, combrang, hanggasa, jawerkotok,             kimanilan, dan lain-lain, yang masih tersisa di tengah kerusakan lingkungan yang             memprihatinkan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Selain itu, Koppontren Darussalam juga sudah sejak lama mengembangkan tanaman rami.             Putri ulama terkenal, almarhum K.H. Prof. Dr. Anwar Musaddad, ini menjelaskan, dari             tanaman rami, semula hanya memanfaatkan seratnya untuk bahan tekstil pengganti kapas.             Namun ternyata, pucuk rami dapat dijadikan teh alternatif sebagai minuman kesehatan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Berdasarkan penelitian laboratorium, pucuk rami mengandung antioksidan radikal bebas             dalam tubuh, diet lemak dan gula kaya protein. Protein 9,46%, lemak 0,96%, tanin 1,68%,             vitamin C 1.904,6 ppm, total asam 1,25%, total gula 0,15%, dsb. Daun rami telah diuji dan             diteliti di Laboratorium Jurusan Tanah Fak. Pertanian Universitas Brawijaya, dan             Laboratorium Kimia MIPA Unibraw tahun 2005, mengandung zat-zat yang dapat diolah menjadi             pupuk organik. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Batang rami dapat dijadikan arang media tanaman pot/polibag, anggrek dana pupuk             organik. Sedangkan daunnya dapat diolah menjadi pakan ternak sapi, domba, kambing, unggas,             kelinci, serta ikan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Prospek tanaman obat memang memiliki peluang pasar yang menggembirakan. Jika ditata             dengan baik, tentu akan memberi nilai tambah cukup tinggi bagi para petani di pedesaan,             yang selama ini mayoritas merupakan <i>patani kari daki</i>. Mereka dikategorikan miskin             dan tidak berdaya di tengah persaingan harga hasil pertanian yang amat keras, dan harga             pupuk yang selalu melambung. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Apalagi tanaman obat tidak memerlukan lahan luas. Cukup di pekarangan rumah atau di             petak kecil tanah kebun. Sebelum tergerus gelombang pertanian modern akibat dampak             Revolusi Hijau, para petani tradisional di desa-desa, sebetulnya sudah memiliki tradisi             memelihara Toga (tanaman obat keluarga), yang bersifat sambilan. Sekadar untuk menangkal             penyakit ringan di lingkungan rumah tangga belaka.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Namun, setelah mendapat sinyal dari perusahaan farmasi, tak mustahil Toga berkembang             menjadi profesional. Kemungkinan mereka akan mendapat pemasukan hasil dari bertanam             tanaman obat-obatan, dan ini akan menjadi perangsang semangat hidup sehat, untung didapat.             Gebrakan Koppotren Darussalam dan PT Kimia Farma, jika sukses, selain membuka peluang             ekonomi bagi petani, juga memberi jalan ke arah pelestarian alam karena berbagai jenis             tanaman obat-obatan, selalu identik dengan keutuhan lingkungan. *** </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman"><i>&#8211;Penulis, wartawan senior, penggiat komunitas &#8220;Raksa Sarakan &#8211; Lembur Subur             Rayat Raharja&#8221; di pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.</i></font></p>
<p><span></p>
<table cellpadding="1" cellspacing="1" width="100%">
<tr>
<td><span class="topic_title">Pilih Bahan Pengikat Lemak</span><br />
<span class="topic_cat">Nutrition</span> <span class="topic_date">Thu, 08 Nov 2007 15:31:00 WIB </span>Dokter umum yang juga anggota Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T) DKI Jakarta, <span style="font-weight:bold;">Setiawan Dalimartha</span>, menyebutkan bahwa secara empiris tanaman obat telah terbukti menurunkan kadar lemak, entah itu kolesterol maupun trigliserida darah.</p>
<p>Namun, penelitian secara mendalam tentang khasiatnya dalam mencegah proses <span style="font-style:italic;">aterosklerosis</span>, proses stabilisasi plak yang sudah terbentuk sehingga tidak mudah pecah, atau kemungkinan mengurangi proses trombosin, belum ada. Cara kerja tanaman obat juga belum jelas apakah dengan mengikat asam empedu di usus lalu membuangnya lewat tinja, atau memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase.</p>
<p>Karena itu, selain mengasup tanaman tradisional ini, kita diharapkan juga memodifikasi pola makan dan hidup. Sebaiknya makanan berlemak tinggi dihindari. Memperbanyak makan sayur dan buah akan sangat bagus untuk mengurangi terjadinya proses aterosklerosis.</p>
<p>Berikut ini beberapa bahan tanaman yang bisa digunakan untuk menurunkan kolesterol menurut Dr. Setiawan:</p>
<p><span style="font-weight:bold;">A. Alpukat</span></p>
<p><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak1.JPG" align="left" border="1" height="200" hspace="5" vspace="4" width="188" />Nama Latinnya <span style="font-style:italic;">Peresea gratissima Gaertn</span>. Alpukat mengandung asam folat, asam pantotenat, niasin, vitamin B1, B6, C, E, fosfor, zat besi, kalium, magnesium, dan glutation.</p>
<p>Buah alpukat kaya serat dan asam lemak tak jenuh tunggal atau <span style="font-style:italic;">monounsaturated fatty acid</span> (MUFA), sehingga mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol. Bersama dengan vitamin E dan glutation yang dimilikinya, MUFA beraktivitas sebagai antioksidan, yang melindungi pembuluh darah arteri dari kerusakan akibat kol-LDL-M.</p>
<p>Niasin yang dimiliki alpukat memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase, sehingga menurunkan produksi VLDL (<span style="font-style:italic;">very low density lipoprotein</span>) di hati. Akibatnya, kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida turun. Niasin juga dapat meningkatkan kolesterol HDL.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span></p>
<p>Buah alpukat dimakan tanpa perlu dimasak. Bila dimasak rasanya akan pahit. Jangan pula menambahkan gula pasir karena karbohidrat sederhana ini dapat meningkatkan kadar trigliserida. Makanlah buah alpukat masak setiap hari sebanyak 0,5 sampai 1,5 buah dengan ukuran normal.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">B. Temulawak</span></p>
<p><span style="font-style:italic;"><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak.JPG" align="right" border="1" height="184" hspace="5" vspace="4" width="250" />Curcuma xanthorriza Roxb </span>adalah nama Latinnya. Aroma rimpang ini cukup tajam. Rasanya pahit dan agak pedas. Rimpangnya terdiri dari pati, kurkuminoid, dan minyak asiri. Temulawak memiliki khasiat memperlancar pengeluaran air susu ibu (laktagoga), antiradang, memperlancar pengeluaran empedu ke usus (kolagoga), dan peluruh kencing (diuretik).</p>
<p>Kemampuannya memperlancar pengeluaran empedu ini membuat partikel padat dalam kandung empedu berkurang. Akibatnya kolik empedu bisa dikurangi, meredakan perut kembung akibat gangguan metabolisme lemak, dan menurunkan kadar kolesterol darah.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">1.</span> Sekarang ini sudah banyak rimpang temulawak yang dibuat dalam bentuk kemasan siap minum. Namun, bila Anda ingin membuat sendiri, ambil rimpang temulawak segar sebesar tiga jari. Kupas kulitnya, lalu diparut. Tambahkan tigaperempat (3/4) cangkir air panas dan biarkan mengendap. Setelah dingin endapannya dibuang dan airnya diminum. Lakukan setiap hari.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">2. </span>Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengiris tipis-tipis rimpang temulawak segar selebar kurang lebih 0,5 cm. Jemur hingga kering. Bila hendak digunakan, ambi1 4-5 potong temulawak kering. Rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, air disaring dan diminum. Lakukan setiap hari.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">C. Bawang Putih</span></p>
<p><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak2.JPG" align="left" border="1" height="200" hspace="5" vspace="4" width="189" />Sejak ribuan tahun lalu selain digunakan sebagai bumbu dapur, bawang putih (<span style="font-style:italic;">Garlic /Allium sativum L</span>.) juga digunakan untuk obat. Orang Mesir keno menggunakan bawang putih sebagai makanan suplemen untuk budak-budak yang membangun piramida.</p>
<p>Senyawa alicin (<span style="font-style:italic;">diallyl thiosulphinate</span>) menyebabkan bawang putih berkhasiat untuk pengobatan. Allicin dapat mengikat vitamin B1 dan membentuk senyawa alitiamin, yang digunakan sebagai zat perantara untuk memasukkan vitamin B 1 ke dalam tubuh hewan.</p>
<p>Allicin dalam bawang putih juga dapat mengikat protein dan mengubah struktur protein sehingga lebih mudah dicerna, menurunkan kadar kolesterol darah, trigliserida darah, konsentrasi <span style="font-style:italic;">low density lipoprotein</span> (LDL) darah, serta meningkatkan konsentrasi <span style="font-style:italic;">high density lipoprotein </span>(HDL).</p>
<p>Karena itu, bawang putih telah digunakan sejak zaman dulu sebagai pendamping penting hidangan-hidangan daging. Bawang putih juga mengandung germanium, zat pembawa oksigen yang mempunyai efek antikanker.<br />
<br /><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span></p>
<p>Ambil 1-2 siung bawang putih, iris tipis-tipis atau dipipiskan/digiling dan dibuat bulatan kecil-kecil. Kemudian ditelan. Lakukan 2 kali sehari. Anda juga bisa mencari bawang putih yang sudah dibuat dalam bentuk kapsul.</p>
<p>Konsumsi bawang putih mentah yang terlalu banyak akan menimbulkan efek samping seperti rasa mual dan perasaan panas seperti terbakar di tenggorokan, lambung, dan usus. Bau mulut juga akan timbul bila kita menelan bawang putih. Bau ini dapat dihilangkan dengan minum teh kental atau mengunyah daun teh.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">D. Bawang Merah</span></p>
<p><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak3.JPG" align="right" border="1" height="173" hspace="5" vspace="4" width="230" />Tanaman dengan nama <span style="font-style:italic;">Allium cepe L</span> ini mengandung senyawa flavonoid yang bekerja sebagai antioksidan yang bisa menurunkan kadar kolesterol, trigliserida, dan gula darah.</p>
<p>Tidak mengherankan bila dalam makanan sate kambing, bawang merah mentah disertakan sebagai penyeimbang. Mereka yang mengasup bawang merah dapat terlindung dari penyakit jantung koroner.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span></p>
<p>Sekitar 20 g bawang merah diiris tipis-tipis, lalu dimakan bersama nasi. Lakukan tiga kali sehari dengan ukuran sama.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">E. Seledri</span></p>
<p>Tumbuhan dataran tinggi bernama Latin <span style="font-style:italic;">Apium graveolens</span> ini biasa dipakai untuk penyedap sup. Baik akar maupun daunnya sama-sama bermanfaat. Akarnya yang mengandung zat aktif asparagin, pentosan, glutamin, tirosin, manit berkhasiat memacu enzim pencernaan dan peluruh kencing (diuretik).</p>
<p>Kandungan flavonoid, saponin, tannin pada daunnya mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah, dan bersifat sedatif atau penenang.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span></p>
<p>Sebanyak 30 gram akar seledri dicuci bersih, kemudian direbus dengan 2 gelas air bersih hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring airnya, lalu diminum sekaligus.</p>
<p>Cara lainnya bisa dilakukan dengan merebus 30-40 lembar daun seledri. Air rebusannya diminum sekaligus.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">F. Susu Tempe</span></p>
<p><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak6.JPG" align="left" border="1" height="150" hspace="5" vspace="4" width="250" />Tempe dibuat dari kedelai yang sudah diproses, kemudian diberi bibit tempe. Berbeda dengan kedelai, bahan bakunya, mutu gizi tempe lebih tinggi.</p>
<p>Tempe mengandung saponin, yakni suatu sterol tumbuh-tumbuhan yang terbukti memiliki efek menurunkan kadar kolesterol sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol total sekaligus meningkatkan kadar HDL.</p>
<p>Tempe juga memiliki khasiat <span style="font-style:italic;">antihemolitik</span> atau mengurangi kecenderungan mudah pecahnya sel darah merah serta meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dalam melawan infeksi.</p>
<p>Kandungan niasin tempe yang cukup tinggi mampu menekan enzim lipoprotein lipase, sehingga produksi VLDL (<span style="font-style:italic;">very low density lipoprotein</span>) di hati menurun. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara Memanfaatkan:</span><br />
Ambil tempe sebanyak 250 gram. Potong kecil-kecil seukuran 1 cm persegi. Rebus kurang lebih 5 menit untuk mematikan jamur tempe. Tiriskan sampai kering, lalu giling dan blender dengan menambahkan sedikit air hangat.</p>
<p>Hasil tirisan disaring dan diperas dengan kain kasa bersih sehingga diperoleh susu tempe mentah. Tambahkan air hangat sampai menjadi 1 liter. Lalu susu tempe direbus sambil diaduk sampai mendidih. Setelah dingin, tambahkan pemanis. Susu tempe siap diminum. Habiskan dalam sehari.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">G. Cangkang Udang atau Ketam</span><br />
<span style="font-weight:bold;"><img src="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak5.JPG" align="right" border="1" height="167" hspace="5" vspace="4" width="250" />Prof. Walujo Soerjodibroto</span>, spesialis gizi dari RSCM, pernah menyebutkan bahwa bila kita mengasup udang sebaiknya cangkangnya juga dimakan. Cangkang udang mengandung serat dan tidak diserap usus.</p>
<p>Kandungan zat kitinnya (senyawa polisakarida yang mempunyai gugus <span style="font-style:italic;">amina terasetilasi</span>) ini dalam alat pencernaan akan berfungsi sebagai penangkap lemak dan kolesterol sehingga penyerapan lemak dan kolesterol oleh usus akan dikurangi.</p>
<p>Hal yang sama juga berlaku bila kita makan ketam (kepiting). Kulitnya yang keras ternyata merupakan serat yang sangat bagus buat pencernaan kita sekaligus juga bagus untuk membuang lemak.</p>
<p>Sayang, belum ada informasi mengenai cara menikmati cangkang udang dan kepiting secara nyaman.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">H. Daun Jati Belanda</span><br />
Peneliti dari Laboratorium Biokimia IPB, <span style="font-weight:bold;">Yosie Andriani HS, Sulistiyani</span>, dan <span style="font-weight:bold;">Hasim</span> pernah menyelidiki khasiat daun jati belanda (<span style="font-style:italic;">Guazuma ulmifolia Lamk</span>). Tujuannya, mengetahui pengaruh daun jati belanda (dalam bentuk ekstrak air, ekstrak etanol, dan fraksi aktif steroid) terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL/ <span style="font-style:italic;">high density lipoprotein</span>).</p>
<p>Ternyata pemberian daun jati belanda (dalam tiga bentuk, yaitu ekstrak air, ekstrak etanol dan fraksi aktif steroid) berpengaruh terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL).</p>
<p>Daun jati belanda selain menurunkan kadar LDL juga meningkatkan HDL dengan cara mengambil kelebihan kolesterol dari jaringan untuk kemudian diproses di hati lalu dibuang bersama cairan empedu.</p>
<p>Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daun jati belanda terbukti mampu menurunkan kadar lemak darah. Sudah banyak tanaman obat yang dibuat kapsul. Anda bisa membelinya di toko-toko obat.</td>
</tr>
<tr>
<td><img src="http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/images/elements/_spacer.gif" height="1" width="5" /></td>
</tr>
</table>
<p></span> <span></p>
<table cellpadding="1">
<tr>
<td><span class="topic_title">Sumber: Senior</span></td>
</tr>
</table>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pampang.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pampang.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pampang.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pampang.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=41&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pampang.wordpress.com/2008/01/15/tanaman-obat-obatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/562796b8ac30517a4f2b584f4b2e979a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pampang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak1.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak2.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak3.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak6.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/UserFiles/Image/cybermed/Healthy%20Food/Lemak5.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/images/elements/_spacer.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Plasma Nutfah</title>
		<link>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/mengenal-plasma-nutfah/</link>
		<comments>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/mengenal-plasma-nutfah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 15:27:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pampang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/mengenal-plasma-nutfah/</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan (Sumber: Seri Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan, oleh: Ida Hanarida Somantri, Maharani Hasanah, Soenartono Adisoemarto, Machmud Thohari, Agus Nurhadi &#38; Ida N. Orbani. Komisi Nasional Plasma Nutfah) Pendahuluan Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk keanekaragaman plasma nutfah pada taraf di dalam spesies. Plasma nutfah atau sumberdaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=44&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="1"><font size="3"><b>Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan</b></font><br />
(<u>Sumber</u>: Seri Mengenal Plasma               Nutfah Tanaman Pangan, oleh: Ida Hanarida Somantri, Maharani Hasanah,               Soenartono Adisoemarto,             Machmud Thohari, Agus Nurhadi &amp; Ida N. Orbani. Komisi Nasional Plasma             Nutfah)</font></p>
<p class="isiHead"><b><br />
Pendahuluan</b></p>
<p class="isiHead">Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman           hayati tinggi, termasuk keanekaragaman plasma nutfah pada taraf di dalam           spesies. Plasma nutfah atau sumberdaya genetik adalah bahan dari tumbuhan,           hewan, dan/atau jasad renik, yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan           sifat. Sumber daya ini sebagian telah dimanfaatkan secara nyata antara           lain padi, pisang, kecipir, melati, lada, ayam, dan masih banyak lagi           yang belum dimanfaatkan.<br />
Walaupun plasma nutfah sudah dimanfaatkan, perhatian manusia terhadap           keberadaannya masih sangat terbatas. Rendahnya perhatian ini disebabkan           oleh kurangnya kegiatan untuk memperkenalkan plasma nutfah kepada masyarakat           luas. Untuk itu diperlukan metode yang tepat, guna memberikan pemahaman           kepada masyarakat.<br />
Plasma nutfah merupakan bahan dasar untuk merakit varietas unggul yang           mempunyai sifat-sifat di antaranya produktivitas tinggi, tahan hama-penyakit,           dan mutu yang sesuai dengan selera masyarakat. Untuk merakit varietas           unggul diperlukan keanekaragaman plasma nutfah, maka kelestariannya harus         selalu dijaga.<br />
<i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb1_DNA.png" align="left" height="167" hspace="5" width="106" /></i>&#8220;Semua yang hidup berasal dari yang hidup&#8221; merupakan         asas penurunan makhluk dari generasi ke generasi. Setiap menurunkan generasi         berikutnya,         mutu sifat akan diwariskan. Tampilan dari mutu sifat tersebut diatur         oleh gen.<br />
Tanaman pangan meliputi padi, jagung, sorgum, kedelai, kacang hijau, kacang         tanah, ubi jalar, ubi kayu, kacang-kacangan minor (kacang tunggak, kacang         koro), dan ubi-ubian minor (uwi, garut, balitung, talas, gadung, dan gembili).<br />
Sifat-sifat induk akan diturunkan kepada keturunannya; padi akan menurunkan         padi; begitu pula untuk kelompok tanaman atau tumbuhan yang lain, misalnya         jagung akan menurunkan jagung, ubi-ubian menurunkan ubi-ubian dengan jenis         yang sama, kacang-kacangan akan menurunkan kacang-kacangan yang sejenis         dan sama halnya dengan komponen keanekaragaman hayati lainnya.<br />
Plasma nutfah akan mempertahankan mutu sifat, misalnya padi Rojolele akan         mewariskan sifat pulen dan rasa enak dari Rojolele kepada generasi berikutnya;         singkong Mentega akan menurunkan sifat-sifat singkong Mentega; ubijalar         Cilembu akan menurunkan sifat-sifat ubi jalar Cilembu; begitu pula kelompok-kelompok         tanaman atau tumbuhan lain dalam menurunkan sifat-sifatnya. Plasma nutfah         akan mempertahankan sifat-sifat makhluk dengan menurunkannya kepada generasi         berikutnya.<br />
Pada halaman berikut disajikan beberapa contoh plasma nutfah tanaman pangan         dalam bentuk gambar-gambar disertai dengan penjelasan singkat tentang asal-usul,         dan manfaatnya.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Padi (<i>Oryza sativa</i>)</b></p>
<p class="isiHead" align="left"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb2_padi1.png" align="right" height="130" hspace="5" width="387" /></i>Padi digunakan sebagai bahan makanan pokok (sumber karbohidrat),           tepung untuk kue, mie, dan bahan makanan bayi (beras merah). Kadar amilosa           berkisar antara 4-30%. Kadar amilosa yang rendah di bawah 15%, menunjukkan           bahwa padi tersebut adalah tipe ketan. Sedangkan kadar amilosa antara           20-22% termasuk ke dalam padi yang mempunyai rasa pulen. Padi juga mengandung           protein, dan beberapa mineral, termasuk Fe (zat besi), dan Zn (zinc).</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb2_padi2.png" align="left" height="148" hspace="5" width="387" /></i>Budidaya tanaman padi, dapat dilakukan di dataran rendah (sawah), dataran           tinggi, lahan kering (gogo), dan lahan rawa/pasang surut. Pada saat ini           BB-Biogen menyimpan sekitar 3.500 nomor aksesi padi, yang meliputi padi         sawah, padi gogo, dan padi sawah pasang-surut.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Jagung (<i>Zea mays</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung1.png" align="right" height="131" hspace="5" width="194" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung2.png" align="right" height="131" hspace="5" width="196" /></i>Jagung           berasal dari Peru, Equador, Bolivia, Meksiko Selatan dan Amerika Tengah.           Jagung dapat dibudidayakan sampai ketinggian           3600 m dpi. Jagung merupakan sumber karbohidrat sesudah padi. Selain           itu juga digunakan sebagai sayuran <i>baby corn</i> dan jagung manis), sebagai           makanan ringan (pop corn). Klobot keringnya dapat dimanfaatkan sebagai           pembungkus makanan, misalnya wajid Cililin. Pada jenis jagung opaque           yang mengandung tryptophan dan lysine, dimanfaatkan sebagai sumber makanan           untuk meningkatkan gizi.</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung4.png" align="left" height="124" hspace="5" width="395" /></i>        Beberapa           manfaat jagung antara lain sebagai sumber karbohidrat, sayuran (jagung           manis), makanan ringan (<i>pop corn</i>), dan makanan ternakatau sayuran         (<i>waxy-corn</i> atau pulut).      Jumlah aksesi plasma nutfah jagung di BB &#8211; Biogen sekitar 875 nomor.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Sorgum (<i>Sorghum bicolor </i>L.               (Moench.))</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb5_sorgum2.png" align="right" height="141" hspace="5" width="197" /></i>Sorgum           berasal Ethiopia (Afrika}, dapat tumbuh pada semua jenis tanah, kecuali           pada tanah Podsolik Merah Kuning. Daerah adaptasi terbaik pada dataran           rendah dengan ketinggian 1 -500 m di atas permukaan laut. Pada ketinggian &gt;500           m, umur panennya menjadi lebih panjang. Sorgum merupakan sumber karbohidrat           untuk pangan dan pakan. Selain itu, sorgum juga dapat dimanfaatkansebagai:<br />
- Beras sorgum pengganti nasi, bubur, dan panganan lainnya;<br />
- Tepung sorgum sebagai campuran dalam pembuatan kue, biskuit,           roti dan mie;<br />
- Sebagai bahan pembuat lem dan bir;<br />
- Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak;<br />
- Batang pohonnya dapat dibuatsirop (yang mempunyai kadargula tinggi).</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb5_sorgum3.png" align="left" height="121" hspace="0" width="395" /></i>Biji sorgum mengandung tanin antara 0,2-3,6% yang sebagian besar terdapat           pada kulit dan biji. Kadar tanin yang tinggi dapat mempengaruhi penyerapan           asam-asam amino/protein.<br />
Jumlah koleksi plasma nutfah sorgum di BB-Biogen saat ini sebanyak 211           nomor aksesi.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Ubijalar (<i>Ipomoea batatas</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar1.png" align="left" height="118" hspace="5" width="187" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar2.png" align="left" height="118" hspace="5" width="189" /></i>Ubijalar           berasal dari Barat Daya Amerika Selatan (Guatemala, Colombia, Equador,           dan Peru), Papua New Guinea, Philipina dan Afrika.           Ubijalar menempati rangking ke-7 sebagai bahan pangan dunia dengan produksi           mencapai 115 metrik ton, menempati ranking ketiga setelart kentang dan           ubi kayu. Ubijalar menjadi makanan pokok di daerah tertentu, sedangkan           daun dan tangkai daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran.</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar4.png" align="right" height="79" hspace="5" width="390" /></i>Di           Korea daun dan tangkai daun dimanfaatkan sebagai &#8220;makanan sehat&#8221;.           Di Jepang, pemanfaatan ubijalar mulai dari <i>juice</i>, mie, sampai <i>snack</i>,           karena dianggap mengandung nutrisi yang tinggi<i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar5.png" align="right" height="48" hspace="5" width="345" /></i> kecuali protein dan niacin,           selain dari itu juga dimanfaatkan sebagai zat pewarna. Nutrisi yang tinggi           dicirikan dari tingginya kandungan karbohidrat, vitamin (A, C, dan K)         serta zat besi.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Ubikayu (<i>Mannihot esculenta</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu1.png" align="right" height="132" hspace="2" width="127" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu2.png" align="right" height="132" hspace="2" width="129" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu3.png" align="right" height="132" hspace="2" width="131" /></i>Singkong           atau ubikayu berasal dari Brazil, Amerika Selatan, yang menyebar ke Asia           pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang           Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara,           termasuk Indonesia. Ubikayu merupakan makanan pokok di beberapa negara           Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubikayu juga dapat digunakan           sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar           60%, pati (25-35%), protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi           kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung,           ubi jalar, dan sorgum.</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu4.png" align="left" height="107" hspace="5" width="272" /></i>Ubikayu           mengandung HCN yang terdapat di dalam umbi, dan daunnya. Untuk keperluan           makanan dan pakan ternak digunakan ubi kayu yang kadar HCN-nya           rendah (kurang dari 50 ppm). Sedangkan untuk bahan industri digunakan         ubikayu yang berkadar HCN tinggi.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Gembili (<i>Dioscorea               esculenta</i>)</b></p>
<p class="isiHead">Gembili (<i>Discorea esculenta</i> L.) mempunyai beberapa           narna daerah, di antaranya gembili, sudo, ubi aung, ubijahe, huwi butul,           dll.           Jenis ubi-ubian ini berasal dari Indo China, kemudian menyebar ke Asia           Tenggara, Madagaskar, India Utara, dan Papua. Jenis tersebut dapat tumbuh           di dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpi. Umbi yang masih mentah           berkhasiat sebagaiobattetapi biladimakan rasanyaagakgatal. Di Afrika           Barat ubinya dipakai sebagai industri pati dan alkohol.<br />
<i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb7_gembili.png" align="left" height="138" hspace="5" vspace="5" width="278" /></i>Umbi yang kecil disebut gembili, sedangkan umbi yang besar disebut gembolo.           Daging umbinya berwarna putih sampai kekuningan. Pada umumnya dibudidayakan           sebagai usaha sambilan saja. Pada musim kemarau mengalami masa istirahat           selama 1-6 bulan. Menjelang musim hujan umbi ini akan bertunas dan dipergunakan           sebagai bibit. Perbanyakan dapat dilakukan selain dengan umbinya, juga           dapat dilakukan dengan stek batang. Umbi gembili dapat mulai dipanen         pada umur8-9 bulan setelah masa tanam.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Talas (<i>Colocasia           esculenta</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb8_talas1.png" align="right" height="93" hspace="5" width="163" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb8_talas2.png" align="right" height="93" hspace="5" width="163" /></i>Talas           merupakan tanaman asli daerah tropis. Talas merupakan makanan tambahan           dan sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Talas sering           disebut keladi atau taro, dan mempunyai kerabat lain, yaitu kimpul (<i>Xanthosoma</i>        spp.). Kimpul menghasilkan umbi yang berjumlah banyak, berbeda dengan           talas yang menghasilkan satu umbi per tanaman. Umbi kimpul agak berlendir           setelah direbus, rasanya tidak seenak umbi talas. Umbi dan daun talas         mengandung karbohidrat, protein, dan sedikit lemak.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Ubi Kelapa (<i>Dioscorea           alata</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa1.png" align="left" height="133" hspace="5" width="193" /></i>Ubi kelapa mempunyai rasa enak sehingga merupakan jenis           <i>Dioscorea</i> yang paling digemari. Tanaman ini berbentuk perdu memanjat           dan dapat mencapai ketinggian 3-10 m. Batangnya bersayap empat, tidak           berbulu. Daunnya berbentuk bundar telur. Bentuk umbinya sangat beragam,           ada yang bulat, pipih panjang, bercabang atau menjari. Daging umbinya           berwarna putih ungu atau gading. Bunganya ada dua macam, bungajantan           berwarna kuning atau kuning kehijauan, bunga betinanya berwarna kuning.</p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa3.png" align="left" height="134" hspace="5" width="192" /></i>Ubi kelapa berasal dari Asia, kemudian menyebar ke Asia Tenggara, India,           Semenanjung Malaya dan kepulauan Pasifik. Tanaman ini tumbuh di tanah           datar hingga ketinggian 800 m dpi, tetapi dapat juga tumbuh pada ketinggian           2.700 m dpi. Meskipun dapat tumbuh pada tanah miskin, akan tetapi tanggapannya           terhadap pemupukan sangat baik.<br />
Ubi kelapa mempunyai potensi sebagai sumber karbohidrat. Dipergunakan           sebagai bahan pangan utama di daerah-daerah yang kering dan kurang menghasilkan.           Di Afrika Barat dan Philipina umbinya dipakai sebagai bahan industri           pati dan alkohol. Salah satu kultivar yang berwarna dipakai sebagai bahan         pembuat es krim.</p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa2.png" align="right" height="105" hspace="5" width="190" /></i>Pada musim kemarau umbinya mengalami masa istirahat.             Agar tidak busuk biasanya umbinya disimpan di tempat kering, atau dibungkus             abu. Menjelang             musim hujan umbi ini akan bertunas. Umbi yang telah bertunas digunakan           sebagai bibit. Setelah masa tanam 9-12 bulan, umbinya dapatdipanen.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b><br />
Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Garut (<i>Marantha               arundinaceae</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut1.png" align="left" height="140" hspace="5" width="193" /></i>Tanaman ini berasal dari Amerika khususnya daerah tropik,           kemudian menyebar ke Negara-negara tropik lainnya seperti Indonesia,           India, Sri Lanka dan Philipina. Jenis tanaman ini tumbuh pada ketinggian           0-900 m dpi, dan tumbuh baik pada ketinggian 60-90 m dpi. Tanah yang           lembab dan di tempat-tempat yang terlindung merupakan habitat yang terbaik.           Umbinya banyak mengandung tepung pati yang sangat halus dan mudah dicerna           untuk makanan bayi dan orang sakit.<br />
Umbinya dapat dipergunakan sebagai bahan kosmetika, lem, dan pembuat           minuman beratkohol. Perasan umbinya dapat untuk penawar racun anak panah,           sengatan lebah, dan luka-luka lainnya.<br />
<i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut2.png" align="left" height="140" hspace="5" width="192" /></i>        Di pabrik tablet dipergunakan           untuk mempersiapkan makanan yang mengandung barium yang diperlukan untuk           penghancuran cepat. Umbi garut dapat direbus atau dikukus sebagai makanan           sampingan. Kadang-kadang umbi rebus garut dipotong tipis-tipis dijadikan           keripik. Selain sebagai penghasil umbi, tanaman ini juga dimanfaatkan           sebagai tanaman hias karena daunnya indah.<br />
Perbanyakan tanaman garut dilakukan dengan memotong sebagian kecil dari           rimpang yang bertunas. Tanaman ini biasanya ditanam pada permulaan musim           hujan setelah tanah digemburkan terlebih dahulu.</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut3.png" align="right" height="137" hspace="5" width="392" /></i>        Selama pertumbuhannya,           sekali-kali tanah perlu digemburkan. Umbi dapat dipanen pada umur 10-11         bulan, bila daunnya mulai melayu.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Kacang Tanah (<i>Arachis hypogea</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah1.png" align="right" height="215" hspace="5" width="100" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah2.png" align="right" height="192" hspace="5" width="100" /></i>Kacang           tanah (<i>Arachis hypogea</i> (L.) Merr.) berasal dari Brasilia. Dibawa           pedagang Portugis tahun 1529 ke Maluku. Jawa merupakan           sentra produksi kacang tanah di Indonesia (83%). Kesesuaian lingkungan           usahatani kacang tanah antara 1-500 m dpi. Kacang tanah berguna untuk           membantu menyuburkan tanah, karena pada akarnya terdapat bakteri <i>Rhizobium</i>        yang dapat memperkaya kandungan nitrogen tanah. Biji kacang tanah mengandung           kadar lemak dan protein tinggi. Kandungan proteinnya sekitar 25-34%,           terdiri dari asam-asam amino esensial seperti arginin, fenilalanin, histidin,           isoleusin, leusin, lisin, metionin, triptofan, dan valin. Kandungan lemaknya           sekitar 16-50%, 76-86% di antaranya adalah asam lemak tidak jenuh seperti           asam oleat dan linoleat. Kacang tanah mengandung anti oksidan, yaitu           senyawa tokoferol, selain itu mengandung arakhidonat, dan mineral (Kalsium,           Magnesium, Phosphor, dan Sulfur), serta vitamin (riboflavin, thianin,           asam nikotinik, vitamin E, dan vitamin A).</p>
<p><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah3.png" align="left" height="75" hspace="5" width="227" /></i>Kacang tanah dimanfaatkan untuk berbagai makanan, antara lain sebagai kacang goreng, kacang rebus, sayur asam, bumbu gado-gado, tauge, minyak kacang, dan sisa ampas minyak dapat dibuat oncom. Jumlah koleksi plasma nutfah kacang tanah yang dimiliki BB-Biogen sebanyak 1192 nomor aksesi.</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Kacang Hijau (<i>Phaseolus radiatus</i>      L.)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb12_kchijau1.png" align="right" height="146" hspace="5" width="150" /></i>Kacang           hijau (<i>Phaseolus radiatus</i> L.) mempunyai nama           lain, yaitu mungo, <i>mungbean</i>, <i>green-grain</i>, <i>golden           grawn</i>. Tanaman ini           berasal           dari India yang menyebar ke Indonesia dan dapat tumbuh dengan baik di           Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi Selatan.<br />
Kacang hijau mempunyai nilai gizi yang cukup baik, mengandung vitamin           B1 cukup tinggi (150-400 i.u.) dan vitamin A (9 i.u.}. Kacang hijau yang           sudah menjadi kecambah kaya kandungan vitamin E (tokoferol) yang penting           sebagai anti oksidan, dalam mencegah penuaan dini, dan anti sterilitas.           Kandungan protein kacang hijau mencapai 24%, dengan kandungan asam amino           esensiai seperti isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin,           triptofan, dan valin. Kacang hijau mengandung karbohidrat sekitar 58%.           Pemanfaatan sifat fungsional dari patinya dapat dibuat sebagai tepung           bahan berbagai bentuk makanan bayi sampai orang dewasa. Pati kacang hijau           terdiri dari amilosa 28,8%, dan amilopektin 71,2%. Kegunaan lain tanaman         kacang hijau adalah sebagai pupuk hijau dan penutup tanah.</p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb12_kchijau2.png" align="left" height="146" hspace="5" width="150" /></i>Kacang hijau             banyak diberikan sebagai obat kepada penderita penyakit beri-beri,           karena mengandung vitamin B1 yang tinggi. Kacang hijau juga             banyak dimanfaatkan sebagai panganan seperti rempeyek kacang hijau,           atau sebagai bubur kacang hijau yang dicampur dengan jane dan santan           kelapa.             Selain itu kacang hijau juga digunakan untuk membuat tauge kacang hijau             sebagai campuran dalam gado-gado.<br />
Jumlah aksesi plasma nutfah kacang hijau di BB-Biogen adalah 1.024 aksesi.             Sedangkan varietas unggul kacang hijau yang telah dilepas sebanyak         11 varietas.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Kacang-kacangan Minor</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2a.png" align="right" height="92" hspace="2" width="128" /><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2b.png" align="right" height="92" hspace="2" width="131" /></i>Kacang           tunggak (<i>Vigna unguiculata</i> L.) diperkirakan           berasal dari Afrika Barat. Kacang tunggak memiliki kandungan protein           sekitar           25%, toleran terhadap kekeringan dan seperti tanaman legume lainnya mampu           mengikat nitrogen dari udara. Dalam bentuk segar, daun kacang tunggak           dan polong muda dapat dikonsumsi sebagai sayuran, sedangkan biji dikonsumsi           sebagai makanan kecil <i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2c.png" align="left" height="92" hspace="2" vspace="5" width="129" /></i>maupun           lauk utama. Plasma nutfah kacang tunggak yang dimiiiki BB-Biogen sebanyak           110 aksesi dengan rata-rata hasil biji         sekitar 250 kg/ha.</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<p class="isiHead"><b>Plasma Nutfah Kedelai (<i>Glycine max</i>)</b></p>
<p class="isiHead"><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb15_kedelai.png" align="left" height="128" hspace="5" width="250" /></i>Tanaman           kedelai termasuk famili <i>Leguminosae</i>, SUD famili           <i>Papilonideae</i>. Kedelai berasal dari China, kemudian dikembangkan           di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Amerika Latin dan negara-negara           Asia.           Di Indonesia pertanaman kedelai terpusat di Jawa, Lampung, Nusa Tenggara           Barat dan Bali.<br />
Kedelai dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m dpi, sedangkan ketinggian           optimalnya adalah 650 m dpi. Untuk pertumbuhan kedelai perlu suhu optimal           29,4&#8243;C, pH tanah 6,0-6,8. Kedelai dapat ditanam secara monokultur           maupuntumpang sari, di lahan kering (tegalan) maupun di lahan bekas           padi di lahan sawah.<br />
Kedelai merupakan sumber protein nabati. Rata-rata kandungan protein           biji adalah 35%, kandungan asam amino terbanyak adalah leusin (484 mg/g           N2). Kedelai dapat digunakan sebagai bahan makanan (tahu, tempe, kecap,           tauco, taoji, susu kedelai, tauge, dsb.). Dalam minyak kedelai terdapat           fosfatida yang terdiri dari lesitin dan sepalin yang digunakan sebagai           bahan pengemulsi dalam industri makanan. Kedelai juga digunakan untuk           pakan ternak. Kedelai hitam umumnya dipergunakan sebagai bahan pembuat           kecap, sedangkan kedelai putih dipergunakan untuk bahan pembuat tempe,           tahu, tauco, dan susu kedelai. Susu kedelai bernilai gizi tinggi, sehingga           pada zaman sebelum perang dunia kedua dianjurkan sebagai makanan utama           balita khususnya bayi. Susu kedelai dapat diminum bersama kopi, teh,           atau coklat.<br />
Jumlah aksesi plasma nutfah kedelai yang dimiliki BB-Biogen sebanyak         700 nomor aksesi.</p>
<p class="isiHead">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pampang.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pampang.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pampang.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pampang.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=44&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/mengenal-plasma-nutfah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/562796b8ac30517a4f2b584f4b2e979a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pampang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb1_DNA.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb2_padi1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb2_padi2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb3_jagung4.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb5_sorgum2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb5_sorgum3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar4.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb4_ubijalar5.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb6_ubikayu4.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb7_gembili.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb8_talas1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb8_talas2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb9_ubikelapa2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb10_garut3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb11_kctanah3.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb12_kchijau1.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb12_kchijau2.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2a.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2b.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb13_kcminor2c.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/berita_artikel/images/gb15_kedelai.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tips-tips menuju sukses</title>
		<link>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/tips-tips-menuju-sukses/</link>
		<comments>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/tips-tips-menuju-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 08:48:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pampang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/tips-tips-menuju-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=37&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.</p>
<p>Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.</p>
<p>W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.</p>
<p>Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
<p>Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.</p>
<p>Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.</p>
<p>Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.</p>
<p>Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :</p>
<p>1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.</p>
<p>Contoh :<br />
“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)</p>
<p>2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.</p>
<p>3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari 10″. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai “10″, dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.</p>
<p>4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.” Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan.</p>
<p>5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.</p>
<p>Siapa yang ingin sukses ?</p>
<p>Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif !<br />
Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda !</p>
<p>Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :</p>
<p>“Pasti gagal;<br />
Kami belum pernah melakukannya;<br />
Kami tak sanggup melakukannya;<br />
Saya belum siap melakukannya;<br />
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.</p></div>
<p>Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang. (anonym)Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK. (anonym)</p>
<p>Kita lahir telanjang, orang tua dan orang-orang disekeliling kita yang membungkus kita dengan pakaian. Hal itu menunjukan, Allah SWT menciptakan kita tanpa bungkusan apa-apa. Perjalanan kehidupan kita di dunia yang membuat kita membungkus semua hal dengan bungkusan yang kadang-kadang penuh kepalsuan.</p>
<p>“Mengapa kita berpakaian?” Jika pertanyaan itu ditujukan pada anak-anak kita ketika mereka masih berusia satu atau dua tahun, mereka akan menjawab “supaya tidak sakit!”. Karena itu ajaran yang selalu kita tekankan. Jika mereka usai mandi, lalu berlari ke luar kamar mandi, kadang langsung ke depan tv di ruang tamu.</p>
<p>Kita yang sudah menyiapkan pakaian mereka bergegas menyusul. Biasanya anak-anak kita ini langsung asyik menonton film kartun tanpa memperdulikan handuk yang sudah tidak membungkus tubuh mereka. Setengah kesal biasanya kita akan berkata “ Ayo nak, kemari pakai pakaian dulu, nanti masuk angin bisa sakit!”</p>
<p>Tapi ketika anak-anak kita meulai beranjak keluar dari masa balitanya, kita kemudian menekankan mengapa harus pakai baju supaya tidak malu. Dengan memberikan pengertian seperti itu Anak-anak kita pun kemudian jika ada tamu tidak akan berani keluar, bila mereka hanya mengenakan singlet dan celana dalam saja.</p>
<p><span></span><br />
Seiring bertambahanya usia, banyak hal yang kita pelajari. Berpakaian yang menutup tubuh saja tidak cukup. Pakaian diperlukan tetapi juga harus bersih dan kondisinya baik. Lalu pertimbangan kenyamanan bahan baju. Lalu ke tingkat yang tidak terlalu perlu tapi selalu dipertimbangkan, yaitu mode. Apakah baju ini sesuai dengan trend?</p>
<p>Apa yang tidak terlalu perlu, bisa terbalik menjadi yang paling menentukan. Ketika kita membeli baju, mungkin trend mode yang menjadi penentu. Fungsi baju sebagai penutup agar sopan dan tidak sakit sudah tidak menjadi pertimbangan utama.</p>
<p>Padahal baju hanyalah sepotong perhiasan fisik yang takan akan kita bawa serta saat waktu pulang tiba. Namun kehidupan di dunia membuat kadang kita lupa akan arti pakaian yang sesungguhnya. Dimata Allah SWT, jangankan merk baju perbedaan warna kulit saja tidak berarti apa-apa.</p>
<p>Pernahkah kita merenungkan pakaian kehidupan yang sesungguhnya? Yang tak akan lekang di tinggal trend? Senyum penuh kasih yang memberi kehangatan setiap hati, kasih sayang tulus yang memberi kenyamanan setiap insan, perhatian yang tak putus menghidupkan harapan setiap individu dan iman setiap nurani menjadi kunci pembuka pintu surga.</p>
<p>Itulah pakaian kehidupan yang sesungguhnya yang memberikan kehangatan bukan hanya pada hati kita tapi juga pada hati orang-orang disekeliling kita. Bukalah jendela hati kita lebar-lebar, biarkan kehangatan yang dipancarkan menembus setiap jendela hati yang juga mau terbuka. Ketika kehangatan, kenyamanan dan ketenangan memenuhi setiap hati, maka aroma kedamian akan tersebar di seluruh sudut dunia.</p>
<p>Dan itu bisa kita mulai dari hati kita. Satu pelita hati menyala pasti akan memberi sedikit cahaya. Tapi jika ratusan, ribuan atau jutaan pelita hati yang menyala tidak hanya menghangatkan tapi juga akan menerangi. Pada saat itulah segala kegelapan akan sirna dan tak akan kembali karena pelita-pelita lain siap menyala dan menghangatkan. Tanggalkan semua pakaian yang penuh kepalsuan, sudah saatnya kita mengenakan pakaian kehidupan yang sesungguhnya. Pakaian kehidupan yang layak di mata sang Pencipta.</p>
<p class="postinfo"> 				Filed under: <a href="http://wordpress.com/tag/motivational-inspirational/" title="View all posts in Motivational &amp; Inspirational" rel="category tag">Motivational &amp; Inspirational</a>,  <a href="http://wordpress.com/tag/psychology-self-help/" title="View all posts in Psychology Self Help" rel="category tag">Psychology Self Help</a></p>
<div class="browse">« <a href="http://arifperdana.wordpress.com/2007/03/14/bebahagialah-mereka-yang-memiliki-masalah/">Berbahagialah Mereka Yang Memiliki Masalah</a>  <a href="http://arifperdana.wordpress.com/2007/03/16/orang-orang-terkaya-di-indonesia/">Orang-Orang Terkaya di Indonesia 2006</a> »</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pampang.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pampang.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pampang.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pampang.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=37&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/tips-tips-menuju-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/562796b8ac30517a4f2b584f4b2e979a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pampang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kultur Jaringan</title>
		<link>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/kultur-jaringan/</link>
		<comments>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/kultur-jaringan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 08:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pampang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/kultur-jaringan/</guid>
		<description><![CDATA[Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=36&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:22pt;font-family:'Trebuchet MS';"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/RELION%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/02/clip_image001.gif" alt="KULTUR JARINGAN" height="80" width="397" /><!--[endif]--></span></b></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.  </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.  </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:<br />
1)    Pembuatan media<br />
2)    Inisiasi<br />
3)    Sterilisasi<br />
4)    Multiplikasi<br />
5)    Pengakaran<br />
6)    Aklimatisasi</span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.</span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.  </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di <i>laminar flow</i> dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.   </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di <i>laminar flow</i> untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan.  Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.</span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.  Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).  </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.  </span><span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Trebuchet MS';">Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat. Selain itu, dengan adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat maka lahan-lahan yang kosong dapat c</span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:16pt;font-family:'Arial Narrow';color:blue;">KEUNTUNGAN PEMANFAATAN</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:16pt;font-family:'Arial Narrow';color:blue;">KULTUR JARINGAN</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Pengadaan bibit tidak tergantung musim</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">satu mata tunas yang sudah respon dalam 1</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">tahun dapat dihasilkan minimal 10.000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">planlet/bibit)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Bibit yang dihasilkan seragam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (meng</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">gunakan organ tertentu)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">dan mudah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">¨ </span><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">Dalam proses pembibitan bebas dari gang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Book Antiqua';color:black;">lainnya</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:6pt;"><span class="storycontent1"><span style="font-size:7.5pt;">KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk</span></span><span style="font-size:7.5pt;font-family:'MS Sans Serif';color:saddlebrown;letter-spacing:0.75pt;"><br />
<span class="storycontent1">membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh</span><br />
<span class="storycontent1">menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).</span><br />
<span class="storycontent1">Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dan</span><br />
<span class="storycontent1">tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama</span><br />
<span class="storycontent1">atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim</span><br />
<span class="storycontent1">diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.</span></span><span class="storycontent1"><span style="font-size:7.5pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="isihead"><b><span style="font-size:22pt;font-family:'Bodoni MT Black';">Bagian 2</span></b></p>
<p class="isihead"><b><span style="font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="isihead"><b><span style="font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="isihead"><b><span style="font-family:Arial;">Persyaratan Lokasi</span></b><br />
Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat dengan sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada baiknya bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar suhu ruangan tetap rendah.</p>
<p class="isihead"><b><span style="font-family:Arial;">Kapasitas Labotarium</span></b><br />
Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi. Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi tiap tahun sekitar 400–500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi pertanaman seluas 500–800 ha.<br />
Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu gudang (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman) dan rumah kaca.</p>
<p class="isihead"><b><span style="font-family:Arial;">Peralatan dan Bahan Kimia</span></b><br />
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang perlu disediakan adalah: <i><span style="font-family:Arial;">laminar air flow</span></i>, pinset, pisau, rak kultur, AC, <i><span style="font-family:Arial;">hot plate</span></i> + <i><span style="font-family:Arial;">stirrer</span></i>, pH meter, oven, dan kulkas serta bahan kimia (garam makro + mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox).</p>
<p class="isihead"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/RELION%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/02/clip_image003.jpg" align="right" height="225" hspace="5" width="271" /><!--[endif]--><b><span style="font-family:Arial;">Proses Produksi</span></b><br />
Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi, perakaran, dan aklimatisasi seperti terlihat pada diagram.<br />
<u>Sumber eksplan</u>. Eksplan berupa mata tunas, diambil dari pohon induk yang fisiknya sehat. Tunas tersebut selanjutnya disterilkan dengan alkohol 70%, HgCl2 0,2%, dan <i><span style="font-family:Arial;">Clorox</span></i> 30%.<br />
<u>Inisiasi tunas</u>. Eksplan yang telah disterilkan di-kulturkan dalam media kultur (<i><span style="font-family:Arial;">MS</span></i> + <i><span style="font-family:Arial;">BAP</span></i>). Setelah terbentuk tunas, tunas tersebut disubkultur dalam media multiplikasi (<i><span style="font-family:Arial;">MS</span></i> + <i><span style="font-family:Arial;">BAP</span></i>) dan beberapa komponen organik lainnya.<br />
<u>Multiplikasi</u>. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai diperoleh jumlah tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-rium. Setiap siklus multiplikasi berlangsung selama 2–3 bulan. Untuk biakan (tunas) yang telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari 1 tunas dapat dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah yang diinginkan, biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.<br />
<u>Perakaran</u>. Untuk perakaran digunakan media <i><span style="font-family:Arial;">MS</span></i> + <i><span style="font-family:Arial;">NAA</span></i>. Proses perakaran pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. <i><span style="font-family:Arial;">Planlet</span></i> (tunas yang telah berakar) diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang.<br />
<u>Aklimatisasi</u>. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian, yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat ditanam dalam dua cara. Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter 10 cm yang berisi media (tanah + pupuk kandang) yang telah disterilkan. <i><span style="font-family:Arial;">Planlet</span></i> (dalam polibag) dipelihara di rumah kaca atau rumah kasa. Kedua, bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik. Lebar pesemaian 1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat. Dua sampai tiga minggu sebelum tanam, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (4 kg/m2) dan disterilkan dengan formalin 4%. Planlet ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm. Aklimatisasi berlangsung selama 2-3 bulan. Aklimatisasi cara pertama dapat dilakukan bila lokasi pertanaman letaknya jauh dari pesemaian dan cara kedua dilakukan bila pesemaian berada di sekitar areal pertanaman.</p>
<p class="isihead"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;     &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/RELION%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/02/clip_image005.jpg" align="right" height="207" hspace="5" width="316" /><!--[endif]--><b><span style="font-family:Arial;">Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan</span></b><br />
• Pengadaan bibit tidak tergantung musim<br />
• Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)<br />
• Bibit yang dihasilkan seragam<br />
• Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)<br />
• Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah<br />
• Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:26pt;font-family:'Bodoni MT Black';">Bagian 3</span></p>
<p>Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran jika impor bibit anggrek dalam bentuk ‘flask’ sempat membanjiri nursery-nursery anggrek di negara kita. Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitian, publik dan pecinta anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang ’sangat mahal’ untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau ‘feasible’ untuk perusahaan.</p>
<p>Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah Indonesia. Potensi ini sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di Indonesia, khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang memiliki nilai komersial tinggi. Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti manakala penebangan hutan dan eksploitasi besar-besaran terjadi hutan kita, belum lagi pencurian terang-terangan ataupun “terselubung” dengan dalih kerjasama dan sumbangan penelitian baik oleh masyarakat kita maupun orang asing.</p>
<p>Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan pengembangan dan pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang berkaitan dengan teknologi kultur jaringan. Tidak dipungkiri bahwa metode terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek adalah dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal yang bisa dilakukan dibandingkan dengan metode konvensional.</p>
<p>Secara prinsip, lab kultur jaringan dapat disederhanakan dengan melakukan modifikasi peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat dimungkinkan kultur jaringan seperti ‘home industri’. Hal ini dapat dilihat pada kelompok petani ‘pengkultur biji anggrek’ di Malang yang telah sedemikian banyak.</p>
<p>Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><b>Kultur meristem</b>,      dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus,sehingga sangat tepat      digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi oleh hama penyakit,      termasuk virus.</li>
<li class="MsoNormal"><b>Kultur anther</b>,      bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n), sehingga bentuknya      lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek diploid (2n). Dengan demikian      sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu      dengan kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada      kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan</li>
<li class="MsoNormal">Dengan <b>tekhnik      poliploid</b> dimungkinkan untuk mendapatkan tanaman anggrek ‘giant’      atau besar. Tekhnik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan      kimia yang bersifat menghambat (cholchicine)</li>
<li class="MsoNormal"><b>Kloning</b>,      tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah banyak dan      seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian penganggrek      telah mampu melakukan tekhnik ini.</li>
<li class="MsoNormal"><b>Mutasi</b>,      secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1      : 100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu melalui kultur jaringan      hal tersebut lebih mudah untuk diatur. Tanaman yang mengalami mutasi      permanen biasanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi</li>
<li class="MsoNormal"><b>Bank plasma</b>,      dengan meminimalkan pertumbuhan secara ‘in-vitro’ kita bisa mengoleksi      tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan perawatan      intensif. Baik untuk spesies langka Indonesia maupun dari luar      negeri untuk menjaga keaslian genetis yang sangat penting dalam proses      pemuliaan anggrek.</li>
</ul>
<p class="mainHead"><b>Teknologi Produksi Bibit Abaka melalui Kultur Jaringan Pisang</b></p>
<p class="isiHead"><b><font color="#ff6600">Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Pengembangan           Skala Luas</font></b><i></p>
<p><img src="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_cover.png" align="right" height="190" hspace="5" width="256" /></i>Abaka           (<i>Musa tekstilis</i>) merupakan tanaman penghasil serat yang banyak digunakan           dalam industri kertas bermutu tinggi (kertas rokok, kertas uang, cek,           kertas peta, kertas teh celup, dan kertas <i>cologne</i>), tali kapal, pembungkus           kabel, tekstil, dan popok bayi. Saat ini tanaman abaka tengah dipacu           pengembangannya dalam skala luas.<br />
Dalam pengembangan tersebut diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak           dalam waktu yang relatif singkat. Salah satu teknologi yang dapat diaplikasikan           dalam mendukung usaha tersebut adalah perbanyakan melalui kultur jaringan.           Dengan teknologi tersebut, bibit dapat diproduksi secara cepat dalam           jumlah banyak. Dari 1 tunas dapat digandakan menjadi 10-20 tunas dalam           waktu sekitar 3 bulan, sehingga dalam 1 tahun, dari satu tunas dapat           diproduksi sekitar 10.000-160.000 tunas baru. Tingkat multiplikasi           ini jauh lebih tinggi daripada cara konvensional, yaitu dari 1 tunas           (bibit) hanya dapat menghasilkan antara 20-25 anakan baru dalam 1 tahun.<br />
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan diperlukan suatu laboratorium           dan rumah kaca untuk aklimatisasi bibit sebelum ditanam di lapang.           Dengan demikian, pada tahap awal diperlukan investasi yang relatif       besar.</p>
<p class="isiHead"><b>Persyaratan Lokasi</b><br />
Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat dengan         sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada baiknya         bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar       suhu ruangan tetap rendah.</p>
<p class="isiHead"><b>Kapasitas Labotarium</b><br />
Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi.         Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi         tiap tahun sekitar 400–500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi         pertanaman seluas 500–800 ha.<br />
Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu gudang         (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam,         ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman)         dan rumah       kaca.</p>
<p class="isiHead"><b>Peralatan dan Bahan Kimia</b><br />
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang           perlu disediakan adalah: <i>laminar air flow</i>, pinset, pisau,           rak kultur, AC, <i>hot plate</i> + <i>stirrer</i>, pH meter, oven,           dan kulkas serta bahan kimia (garam makro + mikro, vitamin, zat pengatur           tumbuh,           asam amino, alkohol,       clorox).</p>
<p class="isiHead"><b><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_produksi.png" align="right" height="225" hspace="5" width="271" /></i>Proses Produksi</b><br />
Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi       pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi,     perakaran, dan aklimatisasi seperti terlihat pada diagram.<br />
<u>Sumber eksplan</u>.       Eksplan berupa mata tunas, diambil dari pohon induk yang fisiknya sehat.       Tunas tersebut selanjutnya disterilkan       dengan alkohol 70%, HgCl2 0,2%, dan <i>Clorox</i> 30%.<br />
<u>Inisiasi tunas</u>. Eksplan yang telah disterilkan di-kulturkan dalam       media kultur (<i>MS</i> + <i>BAP</i>). Setelah terbentuk tunas, tunas tersebut disubkultur       dalam media multiplikasi (<i>MS</i> + <i>BAP</i>) dan beberapa komponen organik lainnya.<br />
<u>Multiplikasi</u>. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai diperoleh       jumlah tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-rium.       Setiap siklus multiplikasi berlangsung selama 2–3 bulan. Untuk biakan       (tunas) yang telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari       1 tunas dapat dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah       yang diinginkan, biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.<br />
<u>Perakaran</u>. Untuk perakaran digunakan media <i>MS</i> + <i>NAA</i>. Proses perakaran pada       umumnya berlangsung selama 1 bulan. <i>Planlet</i> (tunas yang telah berakar)       diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang.<br />
<u>Aklimatisasi</u>. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian,       yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat       ditanam dalam dua cara. Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter       10 cm yang berisi media (tanah + pupuk kandang) yang telah disterilkan.       <i>Planlet</i> (dalam polibag) dipelihara di rumah kaca atau rumah kasa.       Kedua, bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik. Lebar       pesemaian       1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat. Dua sampai tiga minggu sebelum       tanam, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (4 kg/m2) dan disterilkan       dengan formalin 4%. Planlet ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm. Aklimatisasi       berlangsung selama 2-3 bulan. Aklimatisasi cara pertama dapat dilakukan       bila lokasi pertanaman letaknya jauh dari pesemaian dan cara kedua dilakukan       bila pesemaian berada di sekitar areal pertanaman.</p>
<p class="isiHead" align="left"><b><i><img src="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_bibit.png" align="right" height="207" hspace="5" width="316" /></i>Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan</b><br />
• Pengadaan bibit tidak tergantung musim<br />
•        Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih       cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan       minimal 10.000 planlet/bibit)<br />
•        Bibit yang dihasilkan seragam<br />
•        Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)<br />
•        Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah<br />
•        Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan       lingkungan lainnya</p>
<p class="isiHead">&nbsp;</p>
<ul></ul>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pampang.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pampang.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pampang.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pampang.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pampang.wordpress.com&amp;blog=2353017&amp;post=36&amp;subd=pampang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pampang.wordpress.com/2008/01/10/kultur-jaringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/562796b8ac30517a4f2b584f4b2e979a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pampang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_cover.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_produksi.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indobiogen.or.id/produk/images/abaka_bibit.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
