Tanaman Obat-Obatan
Mengembangkan Tanaman Obat di Daerah
Oleh H. USEP ROMLI H. M.
SEJAK tahun 1980-an, obat-obatan dan makanan kesehatan buatan Cina telah mengalir deras ke Indonesia. Mereka mendapat pasar yang luas, bukan saja di kota-kota besar, tapi juga hingga ke kota kecil. Bahkan ke desa-desa, mereka dijajakan sales keliling. Ternyata sekarang ini, hampir semua obat-obatan dan makanan kesehatan produk Cina mengandung formalin dan zat-zat berbahaya lainnya, sehingga tak layak dikonsumsi dan harus segera ditarik.
Seandainya masyarakat sadar akan kekayaan tumbuhan obat-obatan khas Indonesia, kasus seperti itu tidak perlu terjadi. Sebab tumbuhan obat-obatan, yang dijamin bersih dari kontaminasi zat-zat berbahaya, terdapat di sekeliling rumah, kebun, atau sawah. Hanya saja belum terinventarisasi secara lengkap serta belum terkaji secara ilmiah. Penggunaan tanaman obat untuk keperluan sehari-hari masih bercorak tradisional.
Peluang ke arah pemanfaatan tumbuhan obat-obatan dalam skala besar dan bernilai bisnis mungkin baru akan dirintis bulan-bulan ini. Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Darussalam Kec. Wanaraja, Kab. Garut, pimpinan Hj. Dra. Ny. Aisyah Musaddad, telah berhasil menggandeng PT Kimia Farma (Pesero), Tbk. untuk pemanfaatan bahan baku obat alam.
Bahkan nota kesepakatan antara kedua institusi tersebut telah ditandatangani akhir bulan lalu, di Pesantren Musadaddiyah, Kab. Garut oleh Dirut PT Kimia Farma, Drs. Gunawan Pranoto dan Hj. Aminah Musaddad, disaksikan Wagub Jabar Drs. H. Nu’man Abdul Hakim dan Sekjen Departemen Pertanian, Hasanuddin Ibrahim.
Menurut Ny. Aminah Musaddad, para santri dan para anggota Majelis Ta’lim Musaddadiyah dan Darussalam telah siap menjadi produsen bahan baku tanaman obat. Riset dan pengembangan melibatkan lembaga-lembaga perguruan tinggi, serta perencanaan, pembinaan, pendampingan mulai dari budi daya, teknologi pascapanen, hingga pemasaran, akan dibantu oleh lembaga-lembaga penelitian dan manajemen.
Diharapkan, kondisi ini dapat mendorong kemauan para santri dan petani untuk menanam, memelihara, dan melestarikan tanaman obat-obatan karena mereka akan mendapat peluang ekonomi yang cukup signifikan dan peningkatan kesejahteraan mereka sehari-hari.
Berbagai jenis tanaman obat yang sudah mulai dikembangkan antara lain katuk, saga, sirih, pinang, kencur, laja, koneng gede, koneng temen, combrang, hanggasa, jawerkotok, kimanilan, dan lain-lain, yang masih tersisa di tengah kerusakan lingkungan yang memprihatinkan.
Selain itu, Koppontren Darussalam juga sudah sejak lama mengembangkan tanaman rami. Putri ulama terkenal, almarhum K.H. Prof. Dr. Anwar Musaddad, ini menjelaskan, dari tanaman rami, semula hanya memanfaatkan seratnya untuk bahan tekstil pengganti kapas. Namun ternyata, pucuk rami dapat dijadikan teh alternatif sebagai minuman kesehatan.
Berdasarkan penelitian laboratorium, pucuk rami mengandung antioksidan radikal bebas dalam tubuh, diet lemak dan gula kaya protein. Protein 9,46%, lemak 0,96%, tanin 1,68%, vitamin C 1.904,6 ppm, total asam 1,25%, total gula 0,15%, dsb. Daun rami telah diuji dan diteliti di Laboratorium Jurusan Tanah Fak. Pertanian Universitas Brawijaya, dan Laboratorium Kimia MIPA Unibraw tahun 2005, mengandung zat-zat yang dapat diolah menjadi pupuk organik.
Batang rami dapat dijadikan arang media tanaman pot/polibag, anggrek dana pupuk organik. Sedangkan daunnya dapat diolah menjadi pakan ternak sapi, domba, kambing, unggas, kelinci, serta ikan.
Prospek tanaman obat memang memiliki peluang pasar yang menggembirakan. Jika ditata dengan baik, tentu akan memberi nilai tambah cukup tinggi bagi para petani di pedesaan, yang selama ini mayoritas merupakan patani kari daki. Mereka dikategorikan miskin dan tidak berdaya di tengah persaingan harga hasil pertanian yang amat keras, dan harga pupuk yang selalu melambung.
Apalagi tanaman obat tidak memerlukan lahan luas. Cukup di pekarangan rumah atau di petak kecil tanah kebun. Sebelum tergerus gelombang pertanian modern akibat dampak Revolusi Hijau, para petani tradisional di desa-desa, sebetulnya sudah memiliki tradisi memelihara Toga (tanaman obat keluarga), yang bersifat sambilan. Sekadar untuk menangkal penyakit ringan di lingkungan rumah tangga belaka.
Namun, setelah mendapat sinyal dari perusahaan farmasi, tak mustahil Toga berkembang menjadi profesional. Kemungkinan mereka akan mendapat pemasukan hasil dari bertanam tanaman obat-obatan, dan ini akan menjadi perangsang semangat hidup sehat, untung didapat. Gebrakan Koppotren Darussalam dan PT Kimia Farma, jika sukses, selain membuka peluang ekonomi bagi petani, juga memberi jalan ke arah pelestarian alam karena berbagai jenis tanaman obat-obatan, selalu identik dengan keutuhan lingkungan. ***
–Penulis, wartawan senior, penggiat komunitas “Raksa Sarakan – Lembur Subur Rayat Raharja” di pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.
| Pilih Bahan Pengikat Lemak Nutrition Thu, 08 Nov 2007 15:31:00 WIB Dokter umum yang juga anggota Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T) DKI Jakarta, Setiawan Dalimartha, menyebutkan bahwa secara empiris tanaman obat telah terbukti menurunkan kadar lemak, entah itu kolesterol maupun trigliserida darah. Namun, penelitian secara mendalam tentang khasiatnya dalam mencegah proses aterosklerosis, proses stabilisasi plak yang sudah terbentuk sehingga tidak mudah pecah, atau kemungkinan mengurangi proses trombosin, belum ada. Cara kerja tanaman obat juga belum jelas apakah dengan mengikat asam empedu di usus lalu membuangnya lewat tinja, atau memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase. Karena itu, selain mengasup tanaman tradisional ini, kita diharapkan juga memodifikasi pola makan dan hidup. Sebaiknya makanan berlemak tinggi dihindari. Memperbanyak makan sayur dan buah akan sangat bagus untuk mengurangi terjadinya proses aterosklerosis. Berikut ini beberapa bahan tanaman yang bisa digunakan untuk menurunkan kolesterol menurut Dr. Setiawan: A. Alpukat
Buah alpukat kaya serat dan asam lemak tak jenuh tunggal atau monounsaturated fatty acid (MUFA), sehingga mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol. Bersama dengan vitamin E dan glutation yang dimilikinya, MUFA beraktivitas sebagai antioksidan, yang melindungi pembuluh darah arteri dari kerusakan akibat kol-LDL-M. Niasin yang dimiliki alpukat memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase, sehingga menurunkan produksi VLDL (very low density lipoprotein) di hati. Akibatnya, kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida turun. Niasin juga dapat meningkatkan kolesterol HDL. Cara Memanfaatkan: Buah alpukat dimakan tanpa perlu dimasak. Bila dimasak rasanya akan pahit. Jangan pula menambahkan gula pasir karena karbohidrat sederhana ini dapat meningkatkan kadar trigliserida. Makanlah buah alpukat masak setiap hari sebanyak 0,5 sampai 1,5 buah dengan ukuran normal. B. Temulawak
Kemampuannya memperlancar pengeluaran empedu ini membuat partikel padat dalam kandung empedu berkurang. Akibatnya kolik empedu bisa dikurangi, meredakan perut kembung akibat gangguan metabolisme lemak, dan menurunkan kadar kolesterol darah. Cara Memanfaatkan: 1. Sekarang ini sudah banyak rimpang temulawak yang dibuat dalam bentuk kemasan siap minum. Namun, bila Anda ingin membuat sendiri, ambil rimpang temulawak segar sebesar tiga jari. Kupas kulitnya, lalu diparut. Tambahkan tigaperempat (3/4) cangkir air panas dan biarkan mengendap. Setelah dingin endapannya dibuang dan airnya diminum. Lakukan setiap hari. 2. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengiris tipis-tipis rimpang temulawak segar selebar kurang lebih 0,5 cm. Jemur hingga kering. Bila hendak digunakan, ambi1 4-5 potong temulawak kering. Rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, air disaring dan diminum. Lakukan setiap hari. C. Bawang Putih
Senyawa alicin (diallyl thiosulphinate) menyebabkan bawang putih berkhasiat untuk pengobatan. Allicin dapat mengikat vitamin B1 dan membentuk senyawa alitiamin, yang digunakan sebagai zat perantara untuk memasukkan vitamin B 1 ke dalam tubuh hewan. Allicin dalam bawang putih juga dapat mengikat protein dan mengubah struktur protein sehingga lebih mudah dicerna, menurunkan kadar kolesterol darah, trigliserida darah, konsentrasi low density lipoprotein (LDL) darah, serta meningkatkan konsentrasi high density lipoprotein (HDL). Karena itu, bawang putih telah digunakan sejak zaman dulu sebagai pendamping penting hidangan-hidangan daging. Bawang putih juga mengandung germanium, zat pembawa oksigen yang mempunyai efek antikanker. Ambil 1-2 siung bawang putih, iris tipis-tipis atau dipipiskan/digiling dan dibuat bulatan kecil-kecil. Kemudian ditelan. Lakukan 2 kali sehari. Anda juga bisa mencari bawang putih yang sudah dibuat dalam bentuk kapsul. Konsumsi bawang putih mentah yang terlalu banyak akan menimbulkan efek samping seperti rasa mual dan perasaan panas seperti terbakar di tenggorokan, lambung, dan usus. Bau mulut juga akan timbul bila kita menelan bawang putih. Bau ini dapat dihilangkan dengan minum teh kental atau mengunyah daun teh. D. Bawang Merah
Tidak mengherankan bila dalam makanan sate kambing, bawang merah mentah disertakan sebagai penyeimbang. Mereka yang mengasup bawang merah dapat terlindung dari penyakit jantung koroner. Cara Memanfaatkan: Sekitar 20 g bawang merah diiris tipis-tipis, lalu dimakan bersama nasi. Lakukan tiga kali sehari dengan ukuran sama. E. Seledri Tumbuhan dataran tinggi bernama Latin Apium graveolens ini biasa dipakai untuk penyedap sup. Baik akar maupun daunnya sama-sama bermanfaat. Akarnya yang mengandung zat aktif asparagin, pentosan, glutamin, tirosin, manit berkhasiat memacu enzim pencernaan dan peluruh kencing (diuretik). Kandungan flavonoid, saponin, tannin pada daunnya mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah, dan bersifat sedatif atau penenang. Cara Memanfaatkan: Sebanyak 30 gram akar seledri dicuci bersih, kemudian direbus dengan 2 gelas air bersih hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring airnya, lalu diminum sekaligus. Cara lainnya bisa dilakukan dengan merebus 30-40 lembar daun seledri. Air rebusannya diminum sekaligus. F. Susu Tempe
Tempe mengandung saponin, yakni suatu sterol tumbuh-tumbuhan yang terbukti memiliki efek menurunkan kadar kolesterol sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol total sekaligus meningkatkan kadar HDL. Tempe juga memiliki khasiat antihemolitik atau mengurangi kecenderungan mudah pecahnya sel darah merah serta meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Kandungan niasin tempe yang cukup tinggi mampu menekan enzim lipoprotein lipase, sehingga produksi VLDL (very low density lipoprotein) di hati menurun. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida. Cara Memanfaatkan: Hasil tirisan disaring dan diperas dengan kain kasa bersih sehingga diperoleh susu tempe mentah. Tambahkan air hangat sampai menjadi 1 liter. Lalu susu tempe direbus sambil diaduk sampai mendidih. Setelah dingin, tambahkan pemanis. Susu tempe siap diminum. Habiskan dalam sehari. G. Cangkang Udang atau Ketam Kandungan zat kitinnya (senyawa polisakarida yang mempunyai gugus amina terasetilasi) ini dalam alat pencernaan akan berfungsi sebagai penangkap lemak dan kolesterol sehingga penyerapan lemak dan kolesterol oleh usus akan dikurangi. Hal yang sama juga berlaku bila kita makan ketam (kepiting). Kulitnya yang keras ternyata merupakan serat yang sangat bagus buat pencernaan kita sekaligus juga bagus untuk membuang lemak. Sayang, belum ada informasi mengenai cara menikmati cangkang udang dan kepiting secara nyaman. H. Daun Jati Belanda Ternyata pemberian daun jati belanda (dalam tiga bentuk, yaitu ekstrak air, ekstrak etanol dan fraksi aktif steroid) berpengaruh terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL). Daun jati belanda selain menurunkan kadar LDL juga meningkatkan HDL dengan cara mengambil kelebihan kolesterol dari jaringan untuk kemudian diproses di hati lalu dibuang bersama cairan empedu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daun jati belanda terbukti mampu menurunkan kadar lemak darah. Sudah banyak tanaman obat yang dibuat kapsul. Anda bisa membelinya di toko-toko obat. |
| Sumber: Senior |





