Tanaman Obat-Obatan

•Januari 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengembangkan Tanaman Obat di Daerah
Oleh H. USEP ROMLI H. M.

SEJAK tahun 1980-an, obat-obatan dan makanan kesehatan buatan Cina telah mengalir deras ke Indonesia. Mereka mendapat pasar yang luas, bukan saja di kota-kota besar, tapi juga hingga ke kota kecil. Bahkan ke desa-desa, mereka dijajakan sales keliling. Ternyata sekarang ini, hampir semua obat-obatan dan makanan kesehatan produk Cina mengandung formalin dan zat-zat berbahaya lainnya, sehingga tak layak dikonsumsi dan harus segera ditarik.

Seandainya masyarakat sadar akan kekayaan tumbuhan obat-obatan khas Indonesia, kasus seperti itu tidak perlu terjadi. Sebab tumbuhan obat-obatan, yang dijamin bersih dari kontaminasi zat-zat berbahaya, terdapat di sekeliling rumah, kebun, atau sawah. Hanya saja belum terinventarisasi secara lengkap serta belum terkaji secara ilmiah. Penggunaan tanaman obat untuk keperluan sehari-hari masih bercorak tradisional.

Peluang ke arah pemanfaatan tumbuhan obat-obatan dalam skala besar dan bernilai bisnis mungkin baru akan dirintis bulan-bulan ini. Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Darussalam Kec. Wanaraja, Kab. Garut, pimpinan Hj. Dra. Ny. Aisyah Musaddad, telah berhasil menggandeng PT Kimia Farma (Pesero), Tbk. untuk pemanfaatan bahan baku obat alam.

Bahkan nota kesepakatan antara kedua institusi tersebut telah ditandatangani akhir bulan lalu, di Pesantren Musadaddiyah, Kab. Garut oleh Dirut PT Kimia Farma, Drs. Gunawan Pranoto dan Hj. Aminah Musaddad, disaksikan Wagub Jabar Drs. H. Nu’man Abdul Hakim dan Sekjen Departemen Pertanian, Hasanuddin Ibrahim.

Menurut Ny. Aminah Musaddad, para santri dan para anggota Majelis Ta’lim Musaddadiyah dan Darussalam telah siap menjadi produsen bahan baku tanaman obat. Riset dan pengembangan melibatkan lembaga-lembaga perguruan tinggi, serta perencanaan, pembinaan, pendampingan mulai dari budi daya, teknologi pascapanen, hingga pemasaran, akan dibantu oleh lembaga-lembaga penelitian dan manajemen.

Diharapkan, kondisi ini dapat mendorong kemauan para santri dan petani untuk menanam, memelihara, dan melestarikan tanaman obat-obatan karena mereka akan mendapat peluang ekonomi yang cukup signifikan dan peningkatan kesejahteraan mereka sehari-hari.

Berbagai jenis tanaman obat yang sudah mulai dikembangkan antara lain katuk, saga, sirih, pinang, kencur, laja, koneng gede, koneng temen, combrang, hanggasa, jawerkotok, kimanilan, dan lain-lain, yang masih tersisa di tengah kerusakan lingkungan yang memprihatinkan.

Selain itu, Koppontren Darussalam juga sudah sejak lama mengembangkan tanaman rami. Putri ulama terkenal, almarhum K.H. Prof. Dr. Anwar Musaddad, ini menjelaskan, dari tanaman rami, semula hanya memanfaatkan seratnya untuk bahan tekstil pengganti kapas. Namun ternyata, pucuk rami dapat dijadikan teh alternatif sebagai minuman kesehatan.

Berdasarkan penelitian laboratorium, pucuk rami mengandung antioksidan radikal bebas dalam tubuh, diet lemak dan gula kaya protein. Protein 9,46%, lemak 0,96%, tanin 1,68%, vitamin C 1.904,6 ppm, total asam 1,25%, total gula 0,15%, dsb. Daun rami telah diuji dan diteliti di Laboratorium Jurusan Tanah Fak. Pertanian Universitas Brawijaya, dan Laboratorium Kimia MIPA Unibraw tahun 2005, mengandung zat-zat yang dapat diolah menjadi pupuk organik.

Batang rami dapat dijadikan arang media tanaman pot/polibag, anggrek dana pupuk organik. Sedangkan daunnya dapat diolah menjadi pakan ternak sapi, domba, kambing, unggas, kelinci, serta ikan.

Prospek tanaman obat memang memiliki peluang pasar yang menggembirakan. Jika ditata dengan baik, tentu akan memberi nilai tambah cukup tinggi bagi para petani di pedesaan, yang selama ini mayoritas merupakan patani kari daki. Mereka dikategorikan miskin dan tidak berdaya di tengah persaingan harga hasil pertanian yang amat keras, dan harga pupuk yang selalu melambung.

Apalagi tanaman obat tidak memerlukan lahan luas. Cukup di pekarangan rumah atau di petak kecil tanah kebun. Sebelum tergerus gelombang pertanian modern akibat dampak Revolusi Hijau, para petani tradisional di desa-desa, sebetulnya sudah memiliki tradisi memelihara Toga (tanaman obat keluarga), yang bersifat sambilan. Sekadar untuk menangkal penyakit ringan di lingkungan rumah tangga belaka.

Namun, setelah mendapat sinyal dari perusahaan farmasi, tak mustahil Toga berkembang menjadi profesional. Kemungkinan mereka akan mendapat pemasukan hasil dari bertanam tanaman obat-obatan, dan ini akan menjadi perangsang semangat hidup sehat, untung didapat. Gebrakan Koppotren Darussalam dan PT Kimia Farma, jika sukses, selain membuka peluang ekonomi bagi petani, juga memberi jalan ke arah pelestarian alam karena berbagai jenis tanaman obat-obatan, selalu identik dengan keutuhan lingkungan. ***

–Penulis, wartawan senior, penggiat komunitas “Raksa Sarakan – Lembur Subur Rayat Raharja” di pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.

Pilih Bahan Pengikat Lemak
Nutrition Thu, 08 Nov 2007 15:31:00 WIB Dokter umum yang juga anggota Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T) DKI Jakarta, Setiawan Dalimartha, menyebutkan bahwa secara empiris tanaman obat telah terbukti menurunkan kadar lemak, entah itu kolesterol maupun trigliserida darah.

Namun, penelitian secara mendalam tentang khasiatnya dalam mencegah proses aterosklerosis, proses stabilisasi plak yang sudah terbentuk sehingga tidak mudah pecah, atau kemungkinan mengurangi proses trombosin, belum ada. Cara kerja tanaman obat juga belum jelas apakah dengan mengikat asam empedu di usus lalu membuangnya lewat tinja, atau memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase.

Karena itu, selain mengasup tanaman tradisional ini, kita diharapkan juga memodifikasi pola makan dan hidup. Sebaiknya makanan berlemak tinggi dihindari. Memperbanyak makan sayur dan buah akan sangat bagus untuk mengurangi terjadinya proses aterosklerosis.

Berikut ini beberapa bahan tanaman yang bisa digunakan untuk menurunkan kolesterol menurut Dr. Setiawan:

A. Alpukat

Nama Latinnya Peresea gratissima Gaertn. Alpukat mengandung asam folat, asam pantotenat, niasin, vitamin B1, B6, C, E, fosfor, zat besi, kalium, magnesium, dan glutation.

Buah alpukat kaya serat dan asam lemak tak jenuh tunggal atau monounsaturated fatty acid (MUFA), sehingga mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol. Bersama dengan vitamin E dan glutation yang dimilikinya, MUFA beraktivitas sebagai antioksidan, yang melindungi pembuluh darah arteri dari kerusakan akibat kol-LDL-M.

Niasin yang dimiliki alpukat memengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase, sehingga menurunkan produksi VLDL (very low density lipoprotein) di hati. Akibatnya, kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida turun. Niasin juga dapat meningkatkan kolesterol HDL.

Cara Memanfaatkan:

Buah alpukat dimakan tanpa perlu dimasak. Bila dimasak rasanya akan pahit. Jangan pula menambahkan gula pasir karena karbohidrat sederhana ini dapat meningkatkan kadar trigliserida. Makanlah buah alpukat masak setiap hari sebanyak 0,5 sampai 1,5 buah dengan ukuran normal.

B. Temulawak

Curcuma xanthorriza Roxb adalah nama Latinnya. Aroma rimpang ini cukup tajam. Rasanya pahit dan agak pedas. Rimpangnya terdiri dari pati, kurkuminoid, dan minyak asiri. Temulawak memiliki khasiat memperlancar pengeluaran air susu ibu (laktagoga), antiradang, memperlancar pengeluaran empedu ke usus (kolagoga), dan peluruh kencing (diuretik).

Kemampuannya memperlancar pengeluaran empedu ini membuat partikel padat dalam kandung empedu berkurang. Akibatnya kolik empedu bisa dikurangi, meredakan perut kembung akibat gangguan metabolisme lemak, dan menurunkan kadar kolesterol darah.

Cara Memanfaatkan:

1. Sekarang ini sudah banyak rimpang temulawak yang dibuat dalam bentuk kemasan siap minum. Namun, bila Anda ingin membuat sendiri, ambil rimpang temulawak segar sebesar tiga jari. Kupas kulitnya, lalu diparut. Tambahkan tigaperempat (3/4) cangkir air panas dan biarkan mengendap. Setelah dingin endapannya dibuang dan airnya diminum. Lakukan setiap hari.

2. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengiris tipis-tipis rimpang temulawak segar selebar kurang lebih 0,5 cm. Jemur hingga kering. Bila hendak digunakan, ambi1 4-5 potong temulawak kering. Rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, air disaring dan diminum. Lakukan setiap hari.

C. Bawang Putih

Sejak ribuan tahun lalu selain digunakan sebagai bumbu dapur, bawang putih (Garlic /Allium sativum L.) juga digunakan untuk obat. Orang Mesir keno menggunakan bawang putih sebagai makanan suplemen untuk budak-budak yang membangun piramida.

Senyawa alicin (diallyl thiosulphinate) menyebabkan bawang putih berkhasiat untuk pengobatan. Allicin dapat mengikat vitamin B1 dan membentuk senyawa alitiamin, yang digunakan sebagai zat perantara untuk memasukkan vitamin B 1 ke dalam tubuh hewan.

Allicin dalam bawang putih juga dapat mengikat protein dan mengubah struktur protein sehingga lebih mudah dicerna, menurunkan kadar kolesterol darah, trigliserida darah, konsentrasi low density lipoprotein (LDL) darah, serta meningkatkan konsentrasi high density lipoprotein (HDL).

Karena itu, bawang putih telah digunakan sejak zaman dulu sebagai pendamping penting hidangan-hidangan daging. Bawang putih juga mengandung germanium, zat pembawa oksigen yang mempunyai efek antikanker.

Cara Memanfaatkan:

Ambil 1-2 siung bawang putih, iris tipis-tipis atau dipipiskan/digiling dan dibuat bulatan kecil-kecil. Kemudian ditelan. Lakukan 2 kali sehari. Anda juga bisa mencari bawang putih yang sudah dibuat dalam bentuk kapsul.

Konsumsi bawang putih mentah yang terlalu banyak akan menimbulkan efek samping seperti rasa mual dan perasaan panas seperti terbakar di tenggorokan, lambung, dan usus. Bau mulut juga akan timbul bila kita menelan bawang putih. Bau ini dapat dihilangkan dengan minum teh kental atau mengunyah daun teh.

D. Bawang Merah

Tanaman dengan nama Allium cepe L ini mengandung senyawa flavonoid yang bekerja sebagai antioksidan yang bisa menurunkan kadar kolesterol, trigliserida, dan gula darah.

Tidak mengherankan bila dalam makanan sate kambing, bawang merah mentah disertakan sebagai penyeimbang. Mereka yang mengasup bawang merah dapat terlindung dari penyakit jantung koroner.

Cara Memanfaatkan:

Sekitar 20 g bawang merah diiris tipis-tipis, lalu dimakan bersama nasi. Lakukan tiga kali sehari dengan ukuran sama.

E. Seledri

Tumbuhan dataran tinggi bernama Latin Apium graveolens ini biasa dipakai untuk penyedap sup. Baik akar maupun daunnya sama-sama bermanfaat. Akarnya yang mengandung zat aktif asparagin, pentosan, glutamin, tirosin, manit berkhasiat memacu enzim pencernaan dan peluruh kencing (diuretik).

Kandungan flavonoid, saponin, tannin pada daunnya mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, menurunkan tekanan darah, dan bersifat sedatif atau penenang.

Cara Memanfaatkan:

Sebanyak 30 gram akar seledri dicuci bersih, kemudian direbus dengan 2 gelas air bersih hingga tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring airnya, lalu diminum sekaligus.

Cara lainnya bisa dilakukan dengan merebus 30-40 lembar daun seledri. Air rebusannya diminum sekaligus.

F. Susu Tempe

Tempe dibuat dari kedelai yang sudah diproses, kemudian diberi bibit tempe. Berbeda dengan kedelai, bahan bakunya, mutu gizi tempe lebih tinggi.

Tempe mengandung saponin, yakni suatu sterol tumbuh-tumbuhan yang terbukti memiliki efek menurunkan kadar kolesterol sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol total sekaligus meningkatkan kadar HDL.

Tempe juga memiliki khasiat antihemolitik atau mengurangi kecenderungan mudah pecahnya sel darah merah serta meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dalam melawan infeksi.

Kandungan niasin tempe yang cukup tinggi mampu menekan enzim lipoprotein lipase, sehingga produksi VLDL (very low density lipoprotein) di hati menurun. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida.

Cara Memanfaatkan:
Ambil tempe sebanyak 250 gram. Potong kecil-kecil seukuran 1 cm persegi. Rebus kurang lebih 5 menit untuk mematikan jamur tempe. Tiriskan sampai kering, lalu giling dan blender dengan menambahkan sedikit air hangat.

Hasil tirisan disaring dan diperas dengan kain kasa bersih sehingga diperoleh susu tempe mentah. Tambahkan air hangat sampai menjadi 1 liter. Lalu susu tempe direbus sambil diaduk sampai mendidih. Setelah dingin, tambahkan pemanis. Susu tempe siap diminum. Habiskan dalam sehari.

G. Cangkang Udang atau Ketam
Prof. Walujo Soerjodibroto, spesialis gizi dari RSCM, pernah menyebutkan bahwa bila kita mengasup udang sebaiknya cangkangnya juga dimakan. Cangkang udang mengandung serat dan tidak diserap usus.

Kandungan zat kitinnya (senyawa polisakarida yang mempunyai gugus amina terasetilasi) ini dalam alat pencernaan akan berfungsi sebagai penangkap lemak dan kolesterol sehingga penyerapan lemak dan kolesterol oleh usus akan dikurangi.

Hal yang sama juga berlaku bila kita makan ketam (kepiting). Kulitnya yang keras ternyata merupakan serat yang sangat bagus buat pencernaan kita sekaligus juga bagus untuk membuang lemak.

Sayang, belum ada informasi mengenai cara menikmati cangkang udang dan kepiting secara nyaman.

H. Daun Jati Belanda
Peneliti dari Laboratorium Biokimia IPB, Yosie Andriani HS, Sulistiyani, dan Hasim pernah menyelidiki khasiat daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk). Tujuannya, mengetahui pengaruh daun jati belanda (dalam bentuk ekstrak air, ekstrak etanol, dan fraksi aktif steroid) terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL/ high density lipoprotein).

Ternyata pemberian daun jati belanda (dalam tiga bentuk, yaitu ekstrak air, ekstrak etanol dan fraksi aktif steroid) berpengaruh terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL).

Daun jati belanda selain menurunkan kadar LDL juga meningkatkan HDL dengan cara mengambil kelebihan kolesterol dari jaringan untuk kemudian diproses di hati lalu dibuang bersama cairan empedu.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daun jati belanda terbukti mampu menurunkan kadar lemak darah. Sudah banyak tanaman obat yang dibuat kapsul. Anda bisa membelinya di toko-toko obat.

Sumber: Senior

Mengenal Plasma Nutfah

•Januari 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan
(Sumber: Seri Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan, oleh: Ida Hanarida Somantri, Maharani Hasanah, Soenartono Adisoemarto, Machmud Thohari, Agus Nurhadi & Ida N. Orbani. Komisi Nasional Plasma Nutfah)


Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk keanekaragaman plasma nutfah pada taraf di dalam spesies. Plasma nutfah atau sumberdaya genetik adalah bahan dari tumbuhan, hewan, dan/atau jasad renik, yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan sifat. Sumber daya ini sebagian telah dimanfaatkan secara nyata antara lain padi, pisang, kecipir, melati, lada, ayam, dan masih banyak lagi yang belum dimanfaatkan.
Walaupun plasma nutfah sudah dimanfaatkan, perhatian manusia terhadap keberadaannya masih sangat terbatas. Rendahnya perhatian ini disebabkan oleh kurangnya kegiatan untuk memperkenalkan plasma nutfah kepada masyarakat luas. Untuk itu diperlukan metode yang tepat, guna memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Plasma nutfah merupakan bahan dasar untuk merakit varietas unggul yang mempunyai sifat-sifat di antaranya produktivitas tinggi, tahan hama-penyakit, dan mutu yang sesuai dengan selera masyarakat. Untuk merakit varietas unggul diperlukan keanekaragaman plasma nutfah, maka kelestariannya harus selalu dijaga.
“Semua yang hidup berasal dari yang hidup” merupakan asas penurunan makhluk dari generasi ke generasi. Setiap menurunkan generasi berikutnya, mutu sifat akan diwariskan. Tampilan dari mutu sifat tersebut diatur oleh gen.
Tanaman pangan meliputi padi, jagung, sorgum, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, ubi jalar, ubi kayu, kacang-kacangan minor (kacang tunggak, kacang koro), dan ubi-ubian minor (uwi, garut, balitung, talas, gadung, dan gembili).
Sifat-sifat induk akan diturunkan kepada keturunannya; padi akan menurunkan padi; begitu pula untuk kelompok tanaman atau tumbuhan yang lain, misalnya jagung akan menurunkan jagung, ubi-ubian menurunkan ubi-ubian dengan jenis yang sama, kacang-kacangan akan menurunkan kacang-kacangan yang sejenis dan sama halnya dengan komponen keanekaragaman hayati lainnya.
Plasma nutfah akan mempertahankan mutu sifat, misalnya padi Rojolele akan mewariskan sifat pulen dan rasa enak dari Rojolele kepada generasi berikutnya; singkong Mentega akan menurunkan sifat-sifat singkong Mentega; ubijalar Cilembu akan menurunkan sifat-sifat ubi jalar Cilembu; begitu pula kelompok-kelompok tanaman atau tumbuhan lain dalam menurunkan sifat-sifatnya. Plasma nutfah akan mempertahankan sifat-sifat makhluk dengan menurunkannya kepada generasi berikutnya.
Pada halaman berikut disajikan beberapa contoh plasma nutfah tanaman pangan dalam bentuk gambar-gambar disertai dengan penjelasan singkat tentang asal-usul, dan manfaatnya.

Plasma Nutfah Padi (Oryza sativa)

Padi digunakan sebagai bahan makanan pokok (sumber karbohidrat), tepung untuk kue, mie, dan bahan makanan bayi (beras merah). Kadar amilosa berkisar antara 4-30%. Kadar amilosa yang rendah di bawah 15%, menunjukkan bahwa padi tersebut adalah tipe ketan. Sedangkan kadar amilosa antara 20-22% termasuk ke dalam padi yang mempunyai rasa pulen. Padi juga mengandung protein, dan beberapa mineral, termasuk Fe (zat besi), dan Zn (zinc).

Budidaya tanaman padi, dapat dilakukan di dataran rendah (sawah), dataran tinggi, lahan kering (gogo), dan lahan rawa/pasang surut. Pada saat ini BB-Biogen menyimpan sekitar 3.500 nomor aksesi padi, yang meliputi padi sawah, padi gogo, dan padi sawah pasang-surut.

 

Plasma Nutfah Jagung (Zea mays)

Jagung berasal dari Peru, Equador, Bolivia, Meksiko Selatan dan Amerika Tengah. Jagung dapat dibudidayakan sampai ketinggian 3600 m dpi. Jagung merupakan sumber karbohidrat sesudah padi. Selain itu juga digunakan sebagai sayuran baby corn dan jagung manis), sebagai makanan ringan (pop corn). Klobot keringnya dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, misalnya wajid Cililin. Pada jenis jagung opaque yang mengandung tryptophan dan lysine, dimanfaatkan sebagai sumber makanan untuk meningkatkan gizi.

Beberapa manfaat jagung antara lain sebagai sumber karbohidrat, sayuran (jagung manis), makanan ringan (pop corn), dan makanan ternakatau sayuran (waxy-corn atau pulut). Jumlah aksesi plasma nutfah jagung di BB – Biogen sekitar 875 nomor.

 

Plasma Nutfah Sorgum (Sorghum bicolor L. (Moench.))

Sorgum berasal Ethiopia (Afrika}, dapat tumbuh pada semua jenis tanah, kecuali pada tanah Podsolik Merah Kuning. Daerah adaptasi terbaik pada dataran rendah dengan ketinggian 1 -500 m di atas permukaan laut. Pada ketinggian >500 m, umur panennya menjadi lebih panjang. Sorgum merupakan sumber karbohidrat untuk pangan dan pakan. Selain itu, sorgum juga dapat dimanfaatkansebagai:
- Beras sorgum pengganti nasi, bubur, dan panganan lainnya;
- Tepung sorgum sebagai campuran dalam pembuatan kue, biskuit, roti dan mie;
- Sebagai bahan pembuat lem dan bir;
- Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak;
- Batang pohonnya dapat dibuatsirop (yang mempunyai kadargula tinggi).

Biji sorgum mengandung tanin antara 0,2-3,6% yang sebagian besar terdapat pada kulit dan biji. Kadar tanin yang tinggi dapat mempengaruhi penyerapan asam-asam amino/protein.
Jumlah koleksi plasma nutfah sorgum di BB-Biogen saat ini sebanyak 211 nomor aksesi.

Plasma Nutfah Ubijalar (Ipomoea batatas)

Ubijalar berasal dari Barat Daya Amerika Selatan (Guatemala, Colombia, Equador, dan Peru), Papua New Guinea, Philipina dan Afrika. Ubijalar menempati rangking ke-7 sebagai bahan pangan dunia dengan produksi mencapai 115 metrik ton, menempati ranking ketiga setelart kentang dan ubi kayu. Ubijalar menjadi makanan pokok di daerah tertentu, sedangkan daun dan tangkai daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran.

Di Korea daun dan tangkai daun dimanfaatkan sebagai “makanan sehat”. Di Jepang, pemanfaatan ubijalar mulai dari juice, mie, sampai snack, karena dianggap mengandung nutrisi yang tinggi kecuali protein dan niacin, selain dari itu juga dimanfaatkan sebagai zat pewarna. Nutrisi yang tinggi dicirikan dari tingginya kandungan karbohidrat, vitamin (A, C, dan K) serta zat besi.

Plasma Nutfah Ubikayu (Mannihot esculenta)

Singkong atau ubikayu berasal dari Brazil, Amerika Selatan, yang menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubikayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubikayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar 60%, pati (25-35%), protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum.

Ubikayu mengandung HCN yang terdapat di dalam umbi, dan daunnya. Untuk keperluan makanan dan pakan ternak digunakan ubi kayu yang kadar HCN-nya rendah (kurang dari 50 ppm). Sedangkan untuk bahan industri digunakan ubikayu yang berkadar HCN tinggi.

 

 

Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Gembili (Dioscorea esculenta)

Gembili (Discorea esculenta L.) mempunyai beberapa narna daerah, di antaranya gembili, sudo, ubi aung, ubijahe, huwi butul, dll. Jenis ubi-ubian ini berasal dari Indo China, kemudian menyebar ke Asia Tenggara, Madagaskar, India Utara, dan Papua. Jenis tersebut dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpi. Umbi yang masih mentah berkhasiat sebagaiobattetapi biladimakan rasanyaagakgatal. Di Afrika Barat ubinya dipakai sebagai industri pati dan alkohol.
Umbi yang kecil disebut gembili, sedangkan umbi yang besar disebut gembolo. Daging umbinya berwarna putih sampai kekuningan. Pada umumnya dibudidayakan sebagai usaha sambilan saja. Pada musim kemarau mengalami masa istirahat selama 1-6 bulan. Menjelang musim hujan umbi ini akan bertunas dan dipergunakan sebagai bibit. Perbanyakan dapat dilakukan selain dengan umbinya, juga dapat dilakukan dengan stek batang. Umbi gembili dapat mulai dipanen pada umur8-9 bulan setelah masa tanam.

Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Talas (Colocasia esculenta)

Talas merupakan tanaman asli daerah tropis. Talas merupakan makanan tambahan dan sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Talas sering disebut keladi atau taro, dan mempunyai kerabat lain, yaitu kimpul (Xanthosoma spp.). Kimpul menghasilkan umbi yang berjumlah banyak, berbeda dengan talas yang menghasilkan satu umbi per tanaman. Umbi kimpul agak berlendir setelah direbus, rasanya tidak seenak umbi talas. Umbi dan daun talas mengandung karbohidrat, protein, dan sedikit lemak.

Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Ubi Kelapa (Dioscorea alata)

Ubi kelapa mempunyai rasa enak sehingga merupakan jenis Dioscorea yang paling digemari. Tanaman ini berbentuk perdu memanjat dan dapat mencapai ketinggian 3-10 m. Batangnya bersayap empat, tidak berbulu. Daunnya berbentuk bundar telur. Bentuk umbinya sangat beragam, ada yang bulat, pipih panjang, bercabang atau menjari. Daging umbinya berwarna putih ungu atau gading. Bunganya ada dua macam, bungajantan berwarna kuning atau kuning kehijauan, bunga betinanya berwarna kuning.

Ubi kelapa berasal dari Asia, kemudian menyebar ke Asia Tenggara, India, Semenanjung Malaya dan kepulauan Pasifik. Tanaman ini tumbuh di tanah datar hingga ketinggian 800 m dpi, tetapi dapat juga tumbuh pada ketinggian 2.700 m dpi. Meskipun dapat tumbuh pada tanah miskin, akan tetapi tanggapannya terhadap pemupukan sangat baik.
Ubi kelapa mempunyai potensi sebagai sumber karbohidrat. Dipergunakan sebagai bahan pangan utama di daerah-daerah yang kering dan kurang menghasilkan. Di Afrika Barat dan Philipina umbinya dipakai sebagai bahan industri pati dan alkohol. Salah satu kultivar yang berwarna dipakai sebagai bahan pembuat es krim.

Pada musim kemarau umbinya mengalami masa istirahat. Agar tidak busuk biasanya umbinya disimpan di tempat kering, atau dibungkus abu. Menjelang musim hujan umbi ini akan bertunas. Umbi yang telah bertunas digunakan sebagai bibit. Setelah masa tanam 9-12 bulan, umbinya dapatdipanen.

 


Plasma Nutfah Ubi-ubian Minor: Garut (Marantha arundinaceae)

Tanaman ini berasal dari Amerika khususnya daerah tropik, kemudian menyebar ke Negara-negara tropik lainnya seperti Indonesia, India, Sri Lanka dan Philipina. Jenis tanaman ini tumbuh pada ketinggian 0-900 m dpi, dan tumbuh baik pada ketinggian 60-90 m dpi. Tanah yang lembab dan di tempat-tempat yang terlindung merupakan habitat yang terbaik. Umbinya banyak mengandung tepung pati yang sangat halus dan mudah dicerna untuk makanan bayi dan orang sakit.
Umbinya dapat dipergunakan sebagai bahan kosmetika, lem, dan pembuat minuman beratkohol. Perasan umbinya dapat untuk penawar racun anak panah, sengatan lebah, dan luka-luka lainnya.
Di pabrik tablet dipergunakan untuk mempersiapkan makanan yang mengandung barium yang diperlukan untuk penghancuran cepat. Umbi garut dapat direbus atau dikukus sebagai makanan sampingan. Kadang-kadang umbi rebus garut dipotong tipis-tipis dijadikan keripik. Selain sebagai penghasil umbi, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena daunnya indah.
Perbanyakan tanaman garut dilakukan dengan memotong sebagian kecil dari rimpang yang bertunas. Tanaman ini biasanya ditanam pada permulaan musim hujan setelah tanah digemburkan terlebih dahulu.

Selama pertumbuhannya, sekali-kali tanah perlu digemburkan. Umbi dapat dipanen pada umur 10-11 bulan, bila daunnya mulai melayu.

 

 

 

Plasma Nutfah Kacang Tanah (Arachis hypogea)

Kacang tanah (Arachis hypogea (L.) Merr.) berasal dari Brasilia. Dibawa pedagang Portugis tahun 1529 ke Maluku. Jawa merupakan sentra produksi kacang tanah di Indonesia (83%). Kesesuaian lingkungan usahatani kacang tanah antara 1-500 m dpi. Kacang tanah berguna untuk membantu menyuburkan tanah, karena pada akarnya terdapat bakteri Rhizobium yang dapat memperkaya kandungan nitrogen tanah. Biji kacang tanah mengandung kadar lemak dan protein tinggi. Kandungan proteinnya sekitar 25-34%, terdiri dari asam-asam amino esensial seperti arginin, fenilalanin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, triptofan, dan valin. Kandungan lemaknya sekitar 16-50%, 76-86% di antaranya adalah asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat dan linoleat. Kacang tanah mengandung anti oksidan, yaitu senyawa tokoferol, selain itu mengandung arakhidonat, dan mineral (Kalsium, Magnesium, Phosphor, dan Sulfur), serta vitamin (riboflavin, thianin, asam nikotinik, vitamin E, dan vitamin A).

Kacang tanah dimanfaatkan untuk berbagai makanan, antara lain sebagai kacang goreng, kacang rebus, sayur asam, bumbu gado-gado, tauge, minyak kacang, dan sisa ampas minyak dapat dibuat oncom. Jumlah koleksi plasma nutfah kacang tanah yang dimiliki BB-Biogen sebanyak 1192 nomor aksesi.

Plasma Nutfah Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)

Kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) mempunyai nama lain, yaitu mungo, mungbean, green-grain, golden grawn. Tanaman ini berasal dari India yang menyebar ke Indonesia dan dapat tumbuh dengan baik di Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi Selatan.
Kacang hijau mempunyai nilai gizi yang cukup baik, mengandung vitamin B1 cukup tinggi (150-400 i.u.) dan vitamin A (9 i.u.}. Kacang hijau yang sudah menjadi kecambah kaya kandungan vitamin E (tokoferol) yang penting sebagai anti oksidan, dalam mencegah penuaan dini, dan anti sterilitas. Kandungan protein kacang hijau mencapai 24%, dengan kandungan asam amino esensiai seperti isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin. Kacang hijau mengandung karbohidrat sekitar 58%. Pemanfaatan sifat fungsional dari patinya dapat dibuat sebagai tepung bahan berbagai bentuk makanan bayi sampai orang dewasa. Pati kacang hijau terdiri dari amilosa 28,8%, dan amilopektin 71,2%. Kegunaan lain tanaman kacang hijau adalah sebagai pupuk hijau dan penutup tanah.

Kacang hijau banyak diberikan sebagai obat kepada penderita penyakit beri-beri, karena mengandung vitamin B1 yang tinggi. Kacang hijau juga banyak dimanfaatkan sebagai panganan seperti rempeyek kacang hijau, atau sebagai bubur kacang hijau yang dicampur dengan jane dan santan kelapa. Selain itu kacang hijau juga digunakan untuk membuat tauge kacang hijau sebagai campuran dalam gado-gado.
Jumlah aksesi plasma nutfah kacang hijau di BB-Biogen adalah 1.024 aksesi. Sedangkan varietas unggul kacang hijau yang telah dilepas sebanyak 11 varietas.

 

Plasma Nutfah Kacang-kacangan Minor

Kacang tunggak (Vigna unguiculata L.) diperkirakan berasal dari Afrika Barat. Kacang tunggak memiliki kandungan protein sekitar 25%, toleran terhadap kekeringan dan seperti tanaman legume lainnya mampu mengikat nitrogen dari udara. Dalam bentuk segar, daun kacang tunggak dan polong muda dapat dikonsumsi sebagai sayuran, sedangkan biji dikonsumsi sebagai makanan kecil maupun lauk utama. Plasma nutfah kacang tunggak yang dimiiiki BB-Biogen sebanyak 110 aksesi dengan rata-rata hasil biji sekitar 250 kg/ha.

 

 

 

 

Plasma Nutfah Kedelai (Glycine max)

Tanaman kedelai termasuk famili Leguminosae, SUD famili Papilonideae. Kedelai berasal dari China, kemudian dikembangkan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Amerika Latin dan negara-negara Asia. Di Indonesia pertanaman kedelai terpusat di Jawa, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali.
Kedelai dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m dpi, sedangkan ketinggian optimalnya adalah 650 m dpi. Untuk pertumbuhan kedelai perlu suhu optimal 29,4″C, pH tanah 6,0-6,8. Kedelai dapat ditanam secara monokultur maupuntumpang sari, di lahan kering (tegalan) maupun di lahan bekas padi di lahan sawah.
Kedelai merupakan sumber protein nabati. Rata-rata kandungan protein biji adalah 35%, kandungan asam amino terbanyak adalah leusin (484 mg/g N2). Kedelai dapat digunakan sebagai bahan makanan (tahu, tempe, kecap, tauco, taoji, susu kedelai, tauge, dsb.). Dalam minyak kedelai terdapat fosfatida yang terdiri dari lesitin dan sepalin yang digunakan sebagai bahan pengemulsi dalam industri makanan. Kedelai juga digunakan untuk pakan ternak. Kedelai hitam umumnya dipergunakan sebagai bahan pembuat kecap, sedangkan kedelai putih dipergunakan untuk bahan pembuat tempe, tahu, tauco, dan susu kedelai. Susu kedelai bernilai gizi tinggi, sehingga pada zaman sebelum perang dunia kedua dianjurkan sebagai makanan utama balita khususnya bayi. Susu kedelai dapat diminum bersama kopi, teh, atau coklat.
Jumlah aksesi plasma nutfah kedelai yang dimiliki BB-Biogen sebanyak 700 nomor aksesi.

Tips-tips menuju sukses

•Januari 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.

Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :

1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.

Contoh :
“Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya.” (Napoleon Bonaparte). “Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin” (Harry Bullis)

2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.

3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai “hari 10″. Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai “10″, dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.

4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai “hari berpikiran positif.” Hapuslah kata-kata “tidak dapat,” “tidak pernah,” atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan.

5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.

Siapa yang ingin sukses ?

Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif !
Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda !

Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :

“Pasti gagal;
Kami belum pernah melakukannya;
Kami tak sanggup melakukannya;
Saya belum siap melakukannya;
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya”.

Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum, sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang. (anonym)Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK. (anonym)

Kita lahir telanjang, orang tua dan orang-orang disekeliling kita yang membungkus kita dengan pakaian. Hal itu menunjukan, Allah SWT menciptakan kita tanpa bungkusan apa-apa. Perjalanan kehidupan kita di dunia yang membuat kita membungkus semua hal dengan bungkusan yang kadang-kadang penuh kepalsuan.

“Mengapa kita berpakaian?” Jika pertanyaan itu ditujukan pada anak-anak kita ketika mereka masih berusia satu atau dua tahun, mereka akan menjawab “supaya tidak sakit!”. Karena itu ajaran yang selalu kita tekankan. Jika mereka usai mandi, lalu berlari ke luar kamar mandi, kadang langsung ke depan tv di ruang tamu.

Kita yang sudah menyiapkan pakaian mereka bergegas menyusul. Biasanya anak-anak kita ini langsung asyik menonton film kartun tanpa memperdulikan handuk yang sudah tidak membungkus tubuh mereka. Setengah kesal biasanya kita akan berkata “ Ayo nak, kemari pakai pakaian dulu, nanti masuk angin bisa sakit!”

Tapi ketika anak-anak kita meulai beranjak keluar dari masa balitanya, kita kemudian menekankan mengapa harus pakai baju supaya tidak malu. Dengan memberikan pengertian seperti itu Anak-anak kita pun kemudian jika ada tamu tidak akan berani keluar, bila mereka hanya mengenakan singlet dan celana dalam saja.


Seiring bertambahanya usia, banyak hal yang kita pelajari. Berpakaian yang menutup tubuh saja tidak cukup. Pakaian diperlukan tetapi juga harus bersih dan kondisinya baik. Lalu pertimbangan kenyamanan bahan baju. Lalu ke tingkat yang tidak terlalu perlu tapi selalu dipertimbangkan, yaitu mode. Apakah baju ini sesuai dengan trend?

Apa yang tidak terlalu perlu, bisa terbalik menjadi yang paling menentukan. Ketika kita membeli baju, mungkin trend mode yang menjadi penentu. Fungsi baju sebagai penutup agar sopan dan tidak sakit sudah tidak menjadi pertimbangan utama.

Padahal baju hanyalah sepotong perhiasan fisik yang takan akan kita bawa serta saat waktu pulang tiba. Namun kehidupan di dunia membuat kadang kita lupa akan arti pakaian yang sesungguhnya. Dimata Allah SWT, jangankan merk baju perbedaan warna kulit saja tidak berarti apa-apa.

Pernahkah kita merenungkan pakaian kehidupan yang sesungguhnya? Yang tak akan lekang di tinggal trend? Senyum penuh kasih yang memberi kehangatan setiap hati, kasih sayang tulus yang memberi kenyamanan setiap insan, perhatian yang tak putus menghidupkan harapan setiap individu dan iman setiap nurani menjadi kunci pembuka pintu surga.

Itulah pakaian kehidupan yang sesungguhnya yang memberikan kehangatan bukan hanya pada hati kita tapi juga pada hati orang-orang disekeliling kita. Bukalah jendela hati kita lebar-lebar, biarkan kehangatan yang dipancarkan menembus setiap jendela hati yang juga mau terbuka. Ketika kehangatan, kenyamanan dan ketenangan memenuhi setiap hati, maka aroma kedamian akan tersebar di seluruh sudut dunia.

Dan itu bisa kita mulai dari hati kita. Satu pelita hati menyala pasti akan memberi sedikit cahaya. Tapi jika ratusan, ribuan atau jutaan pelita hati yang menyala tidak hanya menghangatkan tapi juga akan menerangi. Pada saat itulah segala kegelapan akan sirna dan tak akan kembali karena pelita-pelita lain siap menyala dan menghangatkan. Tanggalkan semua pakaian yang penuh kepalsuan, sudah saatnya kita mengenakan pakaian kehidupan yang sesungguhnya. Pakaian kehidupan yang layak di mata sang Pencipta.

Kultur Jaringan

•Januari 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.

Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat. Selain itu, dengan adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat maka lahan-lahan yang kosong dapat c

KEUNTUNGAN PEMANFAATAN

KULTUR JARINGAN

¨ Pengadaan bibit tidak tergantung musim

¨ Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak

dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari

satu mata tunas yang sudah respon dalam 1

tahun dapat dihasilkan minimal 10.000

planlet/bibit)

¨ Bibit yang dihasilkan seragam

¨ Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (meng

gunakan organ tertentu)

¨ Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah

dan mudah

¨ Dalam proses pembibitan bebas dari gang

guan hama, penyakit, dan deraan lingkungan

lainnya

KULTUR jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh
menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas).
Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dan
tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama
atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim
diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.

 

Bagian 2

Persyaratan Lokasi
Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat dengan sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada baiknya bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar suhu ruangan tetap rendah.

Kapasitas Labotarium
Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi. Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi tiap tahun sekitar 400–500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi pertanaman seluas 500–800 ha.
Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu gudang (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman) dan rumah kaca.

Peralatan dan Bahan Kimia
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang perlu disediakan adalah: laminar air flow, pinset, pisau, rak kultur, AC, hot plate + stirrer, pH meter, oven, dan kulkas serta bahan kimia (garam makro + mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox).

Proses Produksi
Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi, perakaran, dan aklimatisasi seperti terlihat pada diagram.
Sumber eksplan. Eksplan berupa mata tunas, diambil dari pohon induk yang fisiknya sehat. Tunas tersebut selanjutnya disterilkan dengan alkohol 70%, HgCl2 0,2%, dan Clorox 30%.
Inisiasi tunas. Eksplan yang telah disterilkan di-kulturkan dalam media kultur (MS + BAP). Setelah terbentuk tunas, tunas tersebut disubkultur dalam media multiplikasi (MS + BAP) dan beberapa komponen organik lainnya.
Multiplikasi. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai diperoleh jumlah tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-rium. Setiap siklus multiplikasi berlangsung selama 2–3 bulan. Untuk biakan (tunas) yang telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari 1 tunas dapat dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah yang diinginkan, biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.
Perakaran. Untuk perakaran digunakan media MS + NAA. Proses perakaran pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. Planlet (tunas yang telah berakar) diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang.
Aklimatisasi. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian, yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat ditanam dalam dua cara. Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter 10 cm yang berisi media (tanah + pupuk kandang) yang telah disterilkan. Planlet (dalam polibag) dipelihara di rumah kaca atau rumah kasa. Kedua, bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik. Lebar pesemaian 1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat. Dua sampai tiga minggu sebelum tanam, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (4 kg/m2) dan disterilkan dengan formalin 4%. Planlet ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm. Aklimatisasi berlangsung selama 2-3 bulan. Aklimatisasi cara pertama dapat dilakukan bila lokasi pertanaman letaknya jauh dari pesemaian dan cara kedua dilakukan bila pesemaian berada di sekitar areal pertanaman.

Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan
• Pengadaan bibit tidak tergantung musim
• Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
• Bibit yang dihasilkan seragam
• Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
• Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
• Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya

 

Bagian 3

Perkembangan kultur jaringan di Indonesia terasa sangat lambat, bahkan hampir dikatakan jalan di tempat jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tidaklah heran jika impor bibit anggrek dalam bentuk ‘flask’ sempat membanjiri nursery-nursery anggrek di negara kita. Selain kesenjangan teknologi di lini akademisi, lembaga penelitian, publik dan pecinta anggrek, salah satu penyebab teknologi ini menjadi sangat lambat perkembangannya adalah karena adanya persepsi bahwa diperlukan investasi yang ’sangat mahal’ untuk membangun sebuah lab kultur jaringan, dan hanya cocok atau ‘feasible’ untuk perusahaan.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, salah satunya adalah anggrek, diperkirakan sekitar 5000 jenis anggrek spesies tersebar di hutan wilayah Indonesia. Potensi ini sangat berharga bagi pengembang dan pecinta anggrek di Indonesia, khususnya potensi genetis untuk menghasilkan anggrek silangan yang memiliki nilai komersial tinggi. Potensi tersebut akan menjadi tidak berarti manakala penebangan hutan dan eksploitasi besar-besaran terjadi hutan kita, belum lagi pencurian terang-terangan ataupun “terselubung” dengan dalih kerjasama dan sumbangan penelitian baik oleh masyarakat kita maupun orang asing.

Sementara itu hanya sebagian kecil pihak yang mampu melakukan pengembangan dan pemanfaatan anggrek spesies, khususnya yang berkaitan dengan teknologi kultur jaringan. Tidak dipungkiri bahwa metode terbaik hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan anggrek adalah dengan kultur jaringan, karena melalui kuljar banyak hal yang bisa dilakukan dibandingkan dengan metode konvensional.

Secara prinsip, lab kultur jaringan dapat disederhanakan dengan melakukan modifikasi peralatan dan bahan yang digunakan, sehingga sangat dimungkinkan kultur jaringan seperti ‘home industri’. Hal ini dapat dilihat pada kelompok petani ‘pengkultur biji anggrek’ di Malang yang telah sedemikian banyak.

Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan diantaranya adalah :

  • Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus,sehingga sangat tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi oleh hama penyakit, termasuk virus.
  • Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n), sehingga bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan anggrek diploid (2n). Dengan demikian sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu dengan kultur anther berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan
  • Dengan tekhnik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan tanaman anggrek ‘giant’ atau besar. Tekhnik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan kimia yang bersifat menghambat (cholchicine)
  • Kloning, tekhnik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah banyak dan seragam, khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian penganggrek telah mampu melakukan tekhnik ini.
  • Mutasi, secara alami mutasi sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1 : 100 000 000. Dengan memberikan induksi tertentu melalui kultur jaringan hal tersebut lebih mudah untuk diatur. Tanaman yang mengalami mutasi permanen biasanya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi
  • Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara ‘in-vitro’ kita bisa mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan perawatan intensif. Baik untuk spesies langka Indonesia maupun dari luar negeri untuk menjaga keaslian genetis yang sangat penting dalam proses pemuliaan anggrek.

Teknologi Produksi Bibit Abaka melalui Kultur Jaringan Pisang

Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Pengembangan Skala Luas

Abaka (Musa tekstilis) merupakan tanaman penghasil serat yang banyak digunakan dalam industri kertas bermutu tinggi (kertas rokok, kertas uang, cek, kertas peta, kertas teh celup, dan kertas cologne), tali kapal, pembungkus kabel, tekstil, dan popok bayi. Saat ini tanaman abaka tengah dipacu pengembangannya dalam skala luas.
Dalam pengembangan tersebut diperlukan bibit dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Salah satu teknologi yang dapat diaplikasikan dalam mendukung usaha tersebut adalah perbanyakan melalui kultur jaringan. Dengan teknologi tersebut, bibit dapat diproduksi secara cepat dalam jumlah banyak. Dari 1 tunas dapat digandakan menjadi 10-20 tunas dalam waktu sekitar 3 bulan, sehingga dalam 1 tahun, dari satu tunas dapat diproduksi sekitar 10.000-160.000 tunas baru. Tingkat multiplikasi ini jauh lebih tinggi daripada cara konvensional, yaitu dari 1 tunas (bibit) hanya dapat menghasilkan antara 20-25 anakan baru dalam 1 tahun.
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan diperlukan suatu laboratorium dan rumah kaca untuk aklimatisasi bibit sebelum ditanam di lapang. Dengan demikian, pada tahap awal diperlukan investasi yang relatif besar.

Persyaratan Lokasi
Laboratorium kultur jaringan hendaknya jauh dari sumber polusi, dekat dengan sumber tenaga listrik dan air. Untuk menghemat tenaga listrik, ada baiknya bila laboratorium kultur jaringan ditempatkan di daerah tinggi, agar suhu ruangan tetap rendah.

Kapasitas Labotarium
Ukuran laboratorium tergantung pada jumlah bibit yang akan diproduksi. Untuk ukuran laboratorium sekitar 250 m2, bibit yang dapat diproduksi tiap tahun sekitar 400–500.000 planlet/bibit, yang dapat memenuhi pertanaman seluas 500–800 ha.
Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah, yaitu gudang (ruang) untuk penyimpanan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman) dan rumah kaca.

Peralatan dan Bahan Kimia
Untuk memproduksi bibit melalui kultur jaringan peralatan minimal yang perlu disediakan adalah: laminar air flow, pinset, pisau, rak kultur, AC, hot plate + stirrer, pH meter, oven, dan kulkas serta bahan kimia (garam makro + mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox).

Proses Produksi
Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi, perakaran, dan aklimatisasi seperti terlihat pada diagram.
Sumber eksplan. Eksplan berupa mata tunas, diambil dari pohon induk yang fisiknya sehat. Tunas tersebut selanjutnya disterilkan dengan alkohol 70%, HgCl2 0,2%, dan Clorox 30%.
Inisiasi tunas. Eksplan yang telah disterilkan di-kulturkan dalam media kultur (MS + BAP). Setelah terbentuk tunas, tunas tersebut disubkultur dalam media multiplikasi (MS + BAP) dan beberapa komponen organik lainnya.
Multiplikasi. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai diperoleh jumlah tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-rium. Setiap siklus multiplikasi berlangsung selama 2–3 bulan. Untuk biakan (tunas) yang telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari 1 tunas dapat dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah yang diinginkan, biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.
Perakaran. Untuk perakaran digunakan media MS + NAA. Proses perakaran pada umumnya berlangsung selama 1 bulan. Planlet (tunas yang telah berakar) diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang.
Aklimatisasi. Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian, yang kondisinya (terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat ditanam dalam dua cara. Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter 10 cm yang berisi media (tanah + pupuk kandang) yang telah disterilkan. Planlet (dalam polibag) dipelihara di rumah kaca atau rumah kasa. Kedua, bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi dengan plastik. Lebar pesemaian 1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat. Dua sampai tiga minggu sebelum tanam, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (4 kg/m2) dan disterilkan dengan formalin 4%. Planlet ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm. Aklimatisasi berlangsung selama 2-3 bulan. Aklimatisasi cara pertama dapat dilakukan bila lokasi pertanaman letaknya jauh dari pesemaian dan cara kedua dilakukan bila pesemaian berada di sekitar areal pertanaman.

Keuntungan Pemanfaatan Kultur Jaringan
• Pengadaan bibit tidak tergantung musim
• Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
• Bibit yang dihasilkan seragam
• Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
• Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
• Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya

 

     
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.